Maestro Batik Cirebon Tolak Undangan Hak Paten


jml-boks-setengah abad lebih katura berkarya (11)Dua kali surat untuk pengambilan Hak Cipta dari Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum dan HAM itu tak direspons oleh Katura (65), salah satu maestro perajin batik asal trusmi. Lima motif batik hasil kreasinya itu memenuhi untuk mendapatkan Hak Kekayaan Intelektual.

Kediaman Katura di Jalan Buyut Trusmi No 5 Plered Cirebon, nampak sepi. Suasanya begitu asri, dan adem. Tapi tidak dengan tangan-tangan para perajin batiknya. Mereka lebih sibuk bekerja dengan tangan daripada hanya dengan kata-kata. Ya, di depan rumahnya itulah Katura membangun sanggar batik, membuka kesempatan bagi warga sekitar yang ingin belajar membatik bersama sang Maestro.

Usia Katura memang sudah mulai menua. Untuk itulah dia terus melakukan transfer ilmu kepada generasi muda. Puluhan pelajar hilir mudik untuk belajar batik di sanggarnya. Batik karya Katura memang dikenal. Warga Jepang pun memujinya, dan hingga kini setia menjadi pelanggan batik buatan Katura.

Senyum simpulnya menyambut kedatangan Radar Cirebon di depan teras rumahnya. Sudah setengah abad lebih Katura, menjadi perajin batik trusmi. Suaranya sekarang agak payau dan terbata-bata. Tapi candaanya masih segar seperti dulu. Seperti saat Radar Cirebon mengapa dia tidak mengambil hak paten dari Dirjen HAKI untuk lima motif batiknya.
Bagi Katura, urusan Hak Cipta sudah tidak lagi menjadi pikiran. Itulah kenapa dirinya tidak galau ketika ada negara lain yang mengklaim batik, atau pun ada pengusaha batik yang meraup untung dengan motif-motif hasil kreasinya. Dulu memang dia sendiri yang mengusulkan motif-motif batik kreasinya ke Dirjen HAKI. Atas dasar program dari pemerintah untuk melindungi Hak Kekayaan Intelketual.

“Saya iseng kirim beberapa motif batik, ternyata ada lima motif yang dapat HAKI, ada undanganya disuruh mengambil ke Jakarta, tapi saya tidak respons,” ujarnya. Dia punya alasan. Batik, menurutnya, sudah ditetapkan oleh UNESCO sebagai warisan budaya dunia yang berasal dari Indonesia.

Sehingga sebagai warisan perlu dilesatrikan. Inilah yang membuatnya tak memerlukan lagi hak cipta. Ia ingin warga menikmati batik sebagai warisan budaya dunia. “Ya wis bareng-bareng saja, semua orang bikin batik, siapapun bisa menikmati warisannya,” ujarnya. Diibaratkan seorang orang tua yang punya warisan untuk sepuluh orang anak. Ya harus kebagian semua. Sama halnya dengan batik yang sudah menjadi warisan masyarakat zaman dulu secara turun temurun. “Ya ini jadi milik masyarakat, sama-sama melesatrikan,” tukas Katura.
Hanya saja dia memberikan catatan, perlu ada sportifitas dari para pelaku usaha terutama yang menggunakan batik cap dan batik print. Kedua jenis batik itu justru tidak masuk dalam kategori UNESCO sebagai warisan budaya. Karena kedua cara membatik itu termasuk kategori produk kain tekstil bermotif batik. “Dan ini harus sportif yang batik bikin print dan cap harus ditulis disetiap lembar batik. Sekarang semua orang pengennya untung yang banyak, tapi ora ngerasani (tidak mau merasakannya;red),” ungkapnya.

Batik hasil karya Katura memang dikenal dan diakui oleh Jepang. Empat bulan sekali, dia mendapatkan order dari negara sakura itu. Banyak perajin yang membatik, namun setiap orang memiliki cara dan sentuhan sendiri-sendiri. Hasil karya katura ini dipuji oleh Jepang karena sangat detail dan bermutu tinggi. “Boleh saja orang batik sama motifnya, cuman beda, dari sini kelihatan mutu cantingnya,” ungkapnya lagi.

Bagi warga trusmi, membatik memang sudah menjadi salah satu sumber penghidupan. Itu tak lepas dari sejarah panjang yang erat kaitanya dengan keraton. Boleh dikatakan tidak ada para perajin yang memiliki kekayaan. Tapi dengan batik itu, masyarakat trusmi bisa bertahan hidup. Itulah keberkahan hidup bagi warga trusmi hingga kini.

Sesuai dengan istilahnya batik artinya bati sitik atau untungnya sedikit tapi berkah. Showroom batiknya boleh mewah. Tapi ini harus diteliti dan membedakan mana yang pedagang mana yang pengrajinnya. “Kalau saya pengrajin, yang jual showroom. Sama halnya dengan pedagang beras di cipanang dan petani beras, yang kaya ya pedagangnya. Batik juga begitu. Kalau mau jadi kaya ya silahkan berdagang, kalau pembatiknya ya itu berkahnya,” jelasnya.

Hal itu sesuai dengan kearifan historis dari warga trusmi. Menurut Katura, dulu ada orang trusmi yang diundang oleh Sultan. Dia disuruh bikin duplikatnya kain batik dari Sultan. Syaratnya kain itu tidak boleh dibawa contohnya. Tapi kemudian singkat cerita dulu kain itu dicolong supaya agar bisa meniru batik sultan itu.

Setelah selesai diantarlah hasil batik itu ke sana. Kemudian dilihat hasilnya ternyata sangat mirip dan tidak bisa membedakannya. Dari sana, Sultan menyerah dan menanyakan kepada orang itu mau apa, separuh keraton pun bakal diberikan. Orang trusmi itu bilang dia hanya ingin meminta doa dari Sultan agar masyarakat trusmi bisa hidup dari batik. “Akhirnya ya sampai sekarang diijabahi, dengan adanya krisis moneter pun batik trusmi tetap jalan, padahal membatik hitungannya rugi, cuma ini berkah dari doa Sultan,” ujarnya.

Dijelaskan dia, ada dua motif batik yang berkembang di Jawa. Yakni motif pesisir dan keraton. Tradisi membatik memang diwarisi oleh warga Jawa yang berada di pesisir dan keraton. Bedanya kalau pesisir lebih bermotif flora dan fauna. Sementara keraton punya motif khas keratonan. Membatik sendiri berkembang dari mulai Batik Madura, Solo, Pekalongan, Jogja dan Cirebon.

Dan Cirebonlah yang paling kaya khasanah motif batiknya. Katura mencatat ada sekitar 420 motif batik pesisir dan 30 lebih batik keratonan di Cirebon. Seperti halnya, motif paksi nagaliman, singabarong, taman arum, goa sunyaragi dan lainnya. “Saya disamping mempertahankan motifnya juga mutunya,” ujar pria yang sudah setengah abad lebih menekuni batik tulis itu.

Nulis adalah platform citizen journalism, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis

Maestro Batik Cirebon Tolak Undangan Hak Paten

log in

Become a part of our community!
Belum daftar? Klik
Daftar

reset password

Back to
log in

Daftar

Join NULIS Community

Back to
log in