Tiga Arsitek Asal Tionghoa Ikut Bangun Goa Sunyaragi


Taman-Sari-Gua-Sunyaragi-730x335

Goa Sunyaragi adalah aset bersejarah dan bernilai di Cirebon, bila dikelola dengan baik gua ini juga bisa menjadi tempat wisata sejarah yang mendunia. Apa sebab? bangunan ini selain memiliki design bangunan yang tak biasa, gua ini menyimpan banyak cerita sejarah Cirebon di masa lalu. Termasuk untuk kalangan Tionghoa muslim.

Kepala Pemandu Goa Sunyaragi, Raden Budi Slamet, menyebut Goa Sunyaragi pertama kali dibangun pada tahun 1703. Namun menurut versi keraton, goa tersebut dibangun dalam tiga periode, yakni tahun yakni tahun 1536, 1703 dan terakhir tahun 1800. “Pembangunannya dilakukan secara bertahap,” ucapnya.

Goa ini, kata Budi, dibangun oleh Pangeran Arya Carbon Kararangen, ia adalah cicit dari Sunan Gunung Djati. Dalam membangun gua tersebut, ia dibantu oleh tiga arsitek asal china, yakni Sam Po Kong (dikenal dengan Laksamana Cheng Ho), Sam Cay Kong (dimakamkan di daerah sukalila) dan Liem Toa Jin (dimakamkan di Beijing).

“Sam Po Kong sendiri, dimakamkan di area gua sunyaragi,” katanya. Selain itu, lajut Budi, di salah satu bangunan gua, yakni goa Argajumut. Ada dua buah pintu yang digunakan Sultan Cirebon untuk menuju Mekkah dan China. “Pintu yang sebelah kanan untuk ke Mekkah sedangkan pintu sebelah kiri ke China,” ungkapnya.

Kenapa Mekkah, karena Sunan gunung Djati atau Sultan Cirebon, merupakan keturunan sultan Hud di Mekkah. Sedangkan pintu China digunakan oleh Sunan Gunung Djati untuk menyebarkan agama Islam di sana. Menurut cerita, selama di sana ia bertemu dengan putri China bernama, Ong Tin.

Ong Tin sendiri kemudian menikah dengan Sunan Gunung Djati. Namun, kebenaran apakah putri ongtin ini adalah benar-benar seorang putri dari China atau hanya sebatas gadis keturanan Tionghoa masih menjadi perdebatan di kalangan sejarawan. Budi menyebut bahwa para Tionghoa muslim ini, juga sangat berperan dalam menyebarkan Islam di Cirebon. Begitu pun semasa penjajahan Belanda. “Mereka Tionghoa muslim sudah datang ke Cirebon sebelum bangsa Arab,” ujarnya. “Diperkirakan mereka masuk tahun 1510,” sambungnya.

Menurutnya, goa yang dibuat dari batu-batu karang tersebut, direkatkan dengan bahan-bahan pasir, putih telur dan kapur. Pada tahun 1977, goa ini pernah dipugar. Rencannya, di tahun 2014, mendatang, gua ini juga akan menjadi salah satu tempat yang menjadi target revitalisasi keraton dari pemerintah pusat. Salah satu keinginan, Sultan Sepuh, masih menurut Budi, adalah ingin mengembalikan fungsi gua sebagai isatana air (water castle) atau taman sari Goa Sunyaragi.

Area Goa Sunyaragi sendiri memiliki luas sekitar satu setengah hektare. Dalam kompleks gua ini memiliki 10 gua-gua yang memiliki nama dan fungsinya masing-masing. Yakni gua pengawal, gua simanyang, gua langse, gua peteng, gua padang ati, gua argajumut, gua pandai kemasan, gua kelanggengan, gua lawa, dan gua pawon.

Nulis adalah platform citizen journalism, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis


Tiga Arsitek Asal Tionghoa Ikut Bangun Goa Sunyaragi

log in

Become a part of our community!
Belum daftar? Klik
Daftar

reset password

Back to
log in

Daftar

Join NULIS Community

Back to
log in