Merenungi Kembali Makna Emansipasi di Era Modern


Tribun Kaltim
Tribun Kaltim

Berbicara mengenai emansipasi memang tak bisa lepas dari sosok Kartini. Sebagai pelopor emansipasi wanita, Kartini memulai langkah sederhana namun berdampak besar bagi perubahan nasib dan cara pandang masyarakat mengenai sosok wanita.  Lewat surat-surat monumentalnya, Kartini menyuarakan gagasan dan protes kerasnya terhadap budaya patriarki yang secara nyata menindas hak-hak kaum perempuan, salah satunya hak memperoleh pendidikan.

Ketika surat-surat Kartini terungkap, pemikiran-pemikirannya pun menjadi perbincangan banyak orang dan sekaligus menampar beragam kalangan. Gagasan-gagasan Kartini yang tergolong “berani” dan melampaui zaman tersebut lantas diamini oleh sebagian besar masyarakat kita dan berlanjut pada upaya-upaya emansipasi wanita. Kini, satu abad setelahnya, sebagian besar cita-cita Kartini telah berhasil diwujudkan, dua diantaranya adalah hak memperoleh pendidikan dan pekerjaan.

Jika demikian, sudah tuntaskah perjuangan membela hak-hak kaum perempuan?

Jawabannya adalah belum. Emansipasi, sebagaimana kita ketahui, adalah upaya-upaya penyamarataan hak antara kaum laki-laki dengan kaum perempuan. Namun di era modern ini, istilah emansipasi telah mengalami suatu pergeseran makna. Emansipasi telah mengarah pada upaya pengeksploitasian kaum wanita. Banyak kaum wanita bekerja banting tulang mencari nafkah, sementara kaum laki-laki justru menganggur di rumah. Hak bekerja justru disalahartikan sebagai kewajiban bekerja bagi kaum wanita. Di sisi lain, kaum wanita juga dibebani dengan segala tugas rumah tangga, mulai dari memasak, mencuci, menyapu, membereskan rumah hingga merawat anak. Hal ini membuat penumpukan tugas yang mengarah pada eksploitasi kaum wanita.

Kasus eksploitasi wanita tersebut terjadi di lingkungan tempat tinggal penulis sendiri. Sebut saja P, ibu muda satu anak ini sehari-hari bekerja sebagai penjual sayur keliling. Sambil menjajakan sayuran keliling kampung, P membawa serta sang buah hati untuk diantar ke sekolah. Sementara itu, di saat yang bersamaan, sang suami masih terlelap di rumah tanpa merasa bersalah. Bahkan ketika suatu hari P meminta suaminya mengantar sang buah hati ke sekolah, sang suami menolak dengan alasan masih mengantuk. Puncaknya ketika P yang tengah hamil tua dituntut untuk ikut memanen padi di sawah. Karena kelelahan bekerja di sawah, di samping menjajakan sayur dan membereskan segala tetek bengek urusan rumah tangga, P mengalami keguguran. Berita duka tersebut tak sekadar mengiris hati penulis, namun sekaligus menggerakan penulis untuk berbuat sesuatu yang meskipun sederhana namun penulis harap mampu membuka mata batin semua orang tentang kesalahan dalam menafsirkan emansipasi wanita.

Momen Kartini kali ini, penulis ingin menggelorakan kembali semangat perjuangan Kartini melawan penindasan terhadap kaum wanita. Bukan lagi tentang hak memperoleh pendidikan. Bukan pula mengenai hak menduduki kursi jabatan. Akan tetapi bagaimana mengembalikan makna emansipasi secara utuh sebagai upaya melindungi hak-hak kaum wanita dan fitrahnya sebagai pencetak generasi bangsa, bukan mengeksploitasinya demi keuntungan pribadi.

#tantanganNulis

#hariKartini

What's Your Reaction?
Bingung Bingung
1
Bingung
Sedih Sedih
1
Sedih
Ngagetin Ngagetin
1
Ngagetin
Keren Keren
0
Keren
Top Top
0
Top
Love Love
0
Love

Merenungi Kembali Makna Emansipasi di Era Modern

log in

Become a part of our community!
Belum daftar? Klik
Daftar

reset password

Back to
log in

Daftar

Join NULIS Community

Back to
log in