Hidup Sebatang Kara, Kisah Nenek Ini Bakal Menamparmu Jika Masih Mengeluh


ni

Hidup di usia senja dengan tubuh yang telah ringkih termakan usia, tentu bukanlah perkara yang udah untuk dilalui. Selain kemampuan secara fisik yang telah menurun seiring bertambahnya umur, kondisi kesehatan pun harus dijaga agar tidak mudah terkena penyakit mematikan. Disini, peran keluarga sangat besar untuk membantu mewujudkan semua hal tersebut.

Sayangnya, hal semcama itu nampaknya tak bisa dinikmati dengan bebas oleh sosok nenek renta yang satu ini. Di penghujung usianya yang semakin redup, ia harus berjuang sendirian terombang-ambing kerasnya kehidupan. Yang miris, dirinya yang didera kemiskinan dan hidup sebatang kara, terpaksa memakan dedaunan karena lapar. Seperti apa kisah haru dan perjuangan nenek tersebut, simak ulasan lengkapnya.

Hidup sebatang kara di tanah perantauan

Sosok nenek yang bernama Julaeha tersebut, merupakan seorang wanita yang berasal dari Desa Sumber Suko, Kecamatan Curahdami, Kabupaten Bondowoso Jawa Timur. Kemiskinan yang melilitnya di daerah asalnya, membuat nenek Julaeha memilih mengadu nasib ke tanah rantau demi memperbaiki kehidupannya di masa yang akan datang.

ni2

Tanpa pikir panjang, ia pun nekat mengikuti tetangganya yang kala itu mengikuti program transmigrasi di tahun 1992. Seiring bergulirnya waktu, tetangga yang dulu diikutinya tersebut, memilih untuk pulang kampung dan meninggal tak lama kemudian. Alhasil, hingga di masa tuanya, nenek Julaeha harus tinggal seorang diri, sebatang kara berjuang demi kelangsungan hidupnya tanpa sanak saudara.

Berteduh di gubuk reyot dan menanggung derita

Hidup sendiri tanpa ditemani oleh sanak saudara, membuat sosok nenek Julaeha harus menanggung beban hidup dengan hati yang tegar. Tubuhnya yang telah renta dimakan usia, harus pasrah terbaring dan meringkuk di dalam gubuk deritanya yang telah reyot. Belum lagi penyakit yang datang silih berganti menggerogoti tubuhnya, membuat penderitaan dalam kehidupan seolah tak bertepi.

Gubuk lapuk yang terletak di Desa Siotapina, Kecamatan Ambuau, Kabupaten Buton tersebut, bisa dibilang jauh dari kata layak huni. Dengan luas 2×3 meter, nenek Julaeha dengan ketabahan dan kesabarannya yang luar biasa, tinggal dan bertahan hidup didalam gubuk tersebut. Sebelum tinggal di gubuk tersebut, nenek Julaeha tinggal di sebuah kebun milik orang lain setelah ditinggal pergi oelh tetangga yang mengajakanya dahulu.

Kemiskinan dan himpitan ekonomi yang melilit perutnya

Di umurnya yang telah menginjak 90 tahun, nenek Julaeha harus bekerja keras banting tulang seorang diri demi kelangsungan hidupnya. Usianya yang tak lagi muda, tak menyutuan langkahnya untuk bergerak demi sesuap nasi. Pekerjaan halal apapun dilakukan olehnya agar perutnya tak terlilit oleh rasa lapar.

ni4

Mirisnya, nenek sepuh tersebut terpaksa haru memasak dan makan dedaunan demi mengganjal perutnya yang kelaparan. Seakan tak memperdulikan kondisinya, tak jarang ia memakan dedaunan yang dicampur garam. Jika tak menemukan daun yang bisa dimakan, ia harus puas dengan beberapa teguk air untuk mengenyangkan perutnya yang telah keriput termakan usia tersebut.

Kebaikan dan kemurahan hati yang memperpanjang nafas hidupnya

Hidup terlunta-lunta seorang diri, membuat banyak orang merasa iba terhadap kondisi nenek Julaeha. Tak jarang, ada orang yang memberinya pekerjaan mengupas ubi dengan upah hanya Rp 5.000. Biasanya, nenek Julaeha langsung membeli beras setelah menerima upah tersebut.

Kadang kala, ada saja seseorang yang memberinya uang Rp 2.000 sekedar ingin membantu dirinya. Uang sebesar itu, sering digunakannya untuk membeli kopi sebagai makanan yang menenangkan perutnya sejenak. Yang menyedihkan, terkadang nenek Julaeha tidak pernah makan hingga berhari-hari. Sering sakit perut karena jarang makan, nenek Julaeha hanya mendiamkan hal tersebut.

Akhir kisah, Sang nenek kini bisa tersenyum dengan tenang

Setelah sekian lama menanggung beban penderitaan dalam kesunyian hidupnya, nenek Julaeha kini bisa tersenyum dengan tenang. Pasalnya, Aparat Polres Buton dan segenap komunitas sosial masyarakat, memberikan bantuan yang selama ini tak terpikiran oleh dirinya. Gubuk yang ditinggalinya, kini telah disulap menjadi rumah semi permanen yang nyaman untuk ditinggali.

ni3

Selain rumahnya yang semakin luas, nenek Julaeha juga mendapatkan bantuan berupa kasur tidur, sembako dan satu unit televisi berukuran kecil dari Polres Buton. Dirinya juga kini sudah bisa memasak dengan menggunakan kompor, tak lagi menggunakan kayu sebagaimana mana ia dulu. Para tukang yang membedah rumah sang nenek, tak menginginkan bayaran sepeser pun. Mereka ikhlas bekerja dengan niat ingin membantu sang nenek.

Kisah nenek Julaeha yang sebatang kara dan makan dedaunan, tak pelak sangat menggores hati nurani kita sebagai manusia. Meski masih ada banyak kisah seperti yang dialami oleh nenek Julaeha, kejadian ini semacam ini menyadarkan kita, betapa mereka yang telah berada di penghujung umurnya, seharusnya mendapatkan kasih sayang dan perhatian yang layak. Jika kita sejenak memikirkan kedua orang tua kita yang juga telah berusia lanjut, apakah kita sudah membahagiakan mereka hari ini?

Nulis adalah platform citizen journalism, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis

Comments are closed.

Hidup Sebatang Kara, Kisah Nenek Ini Bakal Menamparmu Jika Masih Mengeluh

log in

Become a part of our community!
Belum daftar? Klik
Daftar

reset password

Back to
log in

Daftar

Join NULIS Community

Back to
log in