Cinta Sejati Tak Perlu Valentine, Kisah Pasutri Ini Bakal Bikin Kamu Nangis Terharu


lupus 1

Seperti sudah menjadi tradisi, setiap 14 Februari banyak pasangan yang merayakan hari kasih sayang. Penjaja coklat dan bunga pun banyak bertebaran demi menyemarakkan peringatan valentine. Padahal, jika menilik sejarah, valentine sebenarnya punya kisah yang kelam. Namun seperti itulah budaya, jika sering dilakukan lambat laun akan menjadi kebiasaan.

Bagi pasangan muda- mudi, tentu valentine tak boleh dilewatkan. Tapi bagi yang mengerti kehidupan asmara yang sesungguhnya, kasih sayang bisa dirayakan setiap hari. Terlebih bagi pasangan suami istri yang sudah paham betul tentang pentingnya kasih sayang dalam keluarga. Seperti kisah suami istri berikut yang telah banyak menginspirasi banyak orang. Ceritanya bikin haru, tentang perjuangan seorang suami dalam merawat sang istri selama puluhan tahun.

KISAH NYATA – Sang Miliader, Merawat Sendiri Istri Selama 25 Tahun

Eko Pratomo Suyatno, siapa yang tidak kenal lelaki bersahaja ini? Namanya sering muncul di koran, televisi, di buku-buku investasi dan keuangan. Dialah salah seorang tokoh di balik kemajuan industri reksadana di Indonesia sekarang ini, juga seorang pemimpin dari sebuah perusahaan investasi reksadana besar di negeri ini.

Dalam posisinya seperti sekarang ini, boleh jadi kita beranggapan, pria ini pasti super sibuk dengan segudang jadwal padat. Tulisan ini, bukan hendak menyoroti kesuksesan beliau sebagai eksekutif. Tetapi, kesehariannya yang luar biasa.

eko_dan_dian
Pak Suyatno & istri

Usianya 60 tahun. Tapi Pak Suyatno masih bersemangat merawat istrinya yang sakit. Mereka menikah sudah lebih 32 tahun dan dikaruniai 4 anak. Cobaan menerpa, tatkala istrinya melahirkan anak ke-4. Tiba-tiba kakinya lumpuh dan itu terjadi selama 2 tahun. Tahun ke tiga, seluruh tubuhnya lemah, bahkan terasa tidak bertulang. Lidahnya pun demikian.

Setiap hari sebelum berangkat kerja Pak Suyatno sendirian memandikan, membersihkan kotoran, menyuapi dan mengangkat istrinya ke tempat tidur. Dia gendong istrinya ke depan TV, agar tidak kesepian. Istrinya sudah tidak dapat bicara, hanya bisa senyum. Untunglah kantornya tidak terlalu jauh dari kediamannya..

Sorenya istrinya dimandikan, mengganti pakaian dan selepas maghrib menemani istrinya nonton televisi sambil bercerita. Walaupun istrinya hanya bisa menanggapi lewat tatapan mata, namun bagi Pak Suyatno sudah cukup menyenangkan. Rutinitas ini dilakukan Pak Suyatno lebih kurang 25 tahun. Dengan penuh kesabaran dia merawat istrinya bahkan sambil membesarkan ke 4 buah hati mereka. Sekarang anak- anak mereka sudah dewasa, tinggal si bungsu yang masih kuliah.

Screenshot_95Lalu suatu hari…

Saat anaknya berkumpul di rumah menjenguk ibunya:

“Pak kami ingin sekali merawat ibu, semenjak kecil melihat bapak merawat ibu tidak ada sedikitpun keluhan keluar dari bapak. Bahkan bapak tidak ijinkan kami menjaga ibu,” kata si sulung dengan air mata berlinang.

“Sudah ke empat kalinya kami mengijinkan bapak menikah lagi, kami rasa ibu pun akan mengijinkannya. Kapan bapak menikmati masa tua bapak? Dengan berkorban seperti ini, kami tidak tega melihat bapak,” tambah yang lain.

”Anak-anakku, jika perkawinan dan hidup di dunia ini hanya untuk nafsu, mungkin bapak akan menikah lagi. Tetapi ketahuilah, dengan adanya ibu kalian di sampingku, itu sudah lebih dari cukup. Dia telah melahirkan kalian.” 

“Kalian yang selalu kurindukan hadir di dunia ini dengan penuh cinta, tidak satu pun dapat dihargai dengan apa pun. Coba kalian tanya ibumu, apakah dia menginginkan keadaanya seperti ini?”

“Kalian menginginkan bapak yang masih diberi Tuhan kesehatan dirawat oleh orang lain, bagaimana dengan ibumu yang masih sakit?” kata Pak Suyatno.

Meledaklah tangis anak-anak Pak Suyatno. Mereka juga menyaksikan butiran kecil jatuh di mata Ibu Suyatno yang dengan pilu menatap suami yang dicintainya.

Sampailah akhirnya Pak Suyatno diundang oleh stasiun TV menjadi narasumber. Host mengajukan pertanyaan kepadanya, kenapa mampu bertahan 25 tahun merawat istrinya yang sudah tidak berdaya? Saat itulah meledak tangis Pak Suyatno, bersama tamu yang hadir di studio yang kebanyakan perempuan pun tidak sanggup menahan haru.

sdf-2Pak Suyatno bercerita:

“Jika manusia mengagungkan cinta dalam perkawinan tetapi tidak memberi waktu, tenaga, pikiran, semua itu adalah kesia-siaan. Saya memilih istri saya menjadi pendamping hidup, sewaktu sehat dia dengan sabar merawat saya, mencintai dengan hati dan bathinnya, bukan dengan mata. Dia memberi empat anak.”

“Saat dia sakit karena berkorban untuk cinta kami bersama, itu merupakan ujian bagi saya, apakah dapat memegang komitmen untuk mencintai dia apa adanya. Jika dia sehat, saya belum tentu mau mencari penggantinya, apalagi dia sakit,” katanya sembari berurai air mata.

“Setiap malam saya bersujud dan menangis. Saya hanya dapat bercerita kepada Allah saja. Saya yakin hanya kepada Allah saya percaya untuk mendengar rahasia saya. Cinta saya kepada istri, sepenuhnya saya serahkan kepada Allah.” tutup Pak Suyatno diakhir ceritanya.

Nulis adalah platform citizen journalism, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis

Comments are closed.

Cinta Sejati Tak Perlu Valentine, Kisah Pasutri Ini Bakal Bikin Kamu Nangis Terharu

log in

Become a part of our community!
Belum daftar? Klik
Daftar

reset password

Back to
log in

Daftar

Join NULIS Community

Back to
log in