Sebuah Puisi “Negara Asing”


bird-383245_640

Negeriku Asing

Setiap malam, selalu ditemani pelita yang kelam
setengah bercahaya dengan jeritan anak anak dalam
merintih namun penuh harap
terseyum dan terlelap

Didalam mimpi, semua orang berkata dengan lantang
hajar sana, banting sini, biar menang
di dalam nyata anak anak tertawa riang
tak pernah tau akan banyak aral yang melintang

kubiarkan mata ini melihat sibesar membanting yang kecil
kubiarkan telinga ini mendengar makian serapah orang yang terpijak
kubiarkan lidah ini memakan dengan berbagai macam rasa
kubiarkan kepala ini bersandar di atas bantal empuk yang meninabobokan

tapi, di ujung sana
akan terus tumbuh dan besar anak anak dengan busung lapar
akan terus tumbuh dan besar anak anak dengan mata nanar
akan terus tumbuh dan besar anak anak yang hanya tau rasa asam dan pekat kehidupan

disini, aku menangis bila tak mendapat sinyal
di ujung sana mereka bertanya, sinyal itu apa?
disini aku bingung mau makan dimana
diujung sana mereka menjerit, mau makan apa?

di negeri ini sudah tidak ada penjajah dengan wajah merah dan bola mata berwarna
di Negeri ini,kelaparanmu,kemerdekaan mu di makan oleh orang yang kulitnya sama dengan mu
Dinegeri ini,Kamu hanya hidup bersama mimpi mimpi yang membesarkanmu
dengan janji janji sirakus yang rapi dan berdasi

Di Negeri ini kau merasa terasing

Nulis adalah platform citizen journalism, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis

What's Your Reaction?
Bingung Bingung
0
Bingung
Sedih Sedih
1
Sedih
Ngagetin Ngagetin
0
Ngagetin
Keren Keren
0
Keren
Top Top
0
Top
Love Love
0
Love

Sebuah Puisi “Negara Asing”

log in

Become a part of our community!
Belum daftar? Klik
Daftar

reset password

Back to
log in

Daftar

Join NULIS Community

Back to
log in