[CERPEN] Pak Tua dan Kisah Lelayang Purba, oleh: Mega Yohana


sumber: azzamaviero.com
Ilustrasi: Anak-anak bermain layang-layang. Sumber: azzamaviero.com

Bahwa setiap awal selalu menuju pada akhir, dan setiap akhir adalah pembuka bagi awal yang lain, siapa yang dapat menyangkal itu?

Di sebuah rumah—tidak, di sebuah gubuk yang terasing dari desa, kulihat lelaki itu meraut bambu. Begitu tak teralihkan, matanya yang kelabu menatap lurus pada potongan bambu di tangannya. Masih, seperti hari-hari sebelumnya.

Pada satu waktu aku akan melihat lelaki itu menebang salah satu bambu dari gerumbulan di tepi sungai dekat rumahnya, memperhatikannya saat membersihkan batang bambu itu dari daun dan glugut yang menempel, lalu mengawasinya ketika ia mengangkat bambu itu ke pundak dan berjalan perlahan ke rumahnya.

Lelaki itu bukanlah orang yang bisa kausebut muda, bukan pula paruh baya. Ia sudah terlalu jauh melampaui masa-masa itu.

Pak Tua. Begitulah kami—anak-anak desa—memanggilnya. Ia yang namanya pun tak kami ketahui. Ia yang oleh orang-orang desa disebut pula telah kehilangan namanya ketika ia datang ke desa ini. Kapan ia datang? Ketika sebuah layang-layang yang teramat purba jatuh di tepi desa, begitulah para orang dewasa bercerita.

Ketika itu, sebuah layang-layang hitam yang telah koyak termakan waktu, melayang turun dari entah dan tergeletak begitu saja di tepi jalan menuju desa. Orang-orang melihatnya, sambil lalu membiarkan layang-layang itu berdebu. Lalu, datanglah Pak Tua, dengan kain lusuh yang juga koyak-koyak, yang tak sempurna menutupi tubuh rentanya dari terik matahari. Ia tampak begitu lelah. Menempel di badannya yang bermandi peluh itu, segala debu dan kotoran. Dan, kakinya yang telanjang, yang begitu tebal oleh debu dan darah kering dari lukanya, berjalan terseok mendekati sang lelayang purba. Ia lalu memungutnya, layang-layang itu. Mendekapnya lalu menangis sejadi-jadinya.

Mula-mula orang takut akan tingkah Pak Tua, yang begitu asing, begitu ganjil. Lalu, mereka menjadi khawatir sebab lelaki itu tampak seperti orang gila, tetapi juga sekaligus tidak. Ia terlihat begitu sedih, begitu terluka. Maka, mendekatlah orang-orang untuk menanyainya dan sebagainya. Lelaki itu mengingat segalanya, kecuali namanya.

Orang-orang desa menawarkan untuk memberinya nama, sekadar untuk memudahkan dalam memanggil. Namun, Pak Tua menolak.

“Saya mungkin memang tak lagi memiliki nama, tapi saya yakin, itulah yang seharusnya.” Begitulah tolaknya, seperti yang dikisahkan para orang dewasa. Selanjutnya, hari-hari Pak Tua ia habiskan dengan meraut bambu.

Dari satu bambu yang ditebangnya, ia dapat meraut banyak sekali kerangka layang-layang. Lalu, ia akan luru plastik, kresek, kertas atau apa pun yang bisa ia gunakan untuk menutup kerangka itu.

Mengapakah layang-layang? Mengapakah bukan caping, rinjing, atau perabotan lain yang bisa menghasilkan lebih banyak uang? Mengapakah harus layang-layang yang bahkan tak setiap hari terjual?

Pernah kami mengajukan pertanyaan itu, karena terlalu penasaran dan tak mendapat jawaban memuaskan dari para orang dewasa.

“Mengapakah harus yang lain?”

Alih-alih jawaban, Pak Tua justru membalikkan pertanyaan.

“Tidakkah kalian senang bermain layang-layang?”

Kami mengangguk serempak, dan ia tersenyum sembari melanjutkan, “Lalu, mengapakah harus membuat yang lain?”

“Biar dapat uang!” sahut Dodi, kawanku yang paling berani menyuarakan setiap pendapatnya. Ya, di antara kami berempat, Dodi adalah yang paling terang-terangan. Ia tak segan-segan bertanya jika ia merasa perlu, dan mengutarakan pendapatnya atau bahkan melawan arus jika ia merasa tak sejalan.

Mendengar tukasannya, Pak Tua tersenyum sekali lagi hingga membuat pipinya yang keriput itu kian berlekuk-lekuk. Ujarnya, “Kalian begitu senang bermain layang-layang. Mengapakah?”

Kami saling pandang. Dodi yang lebih dulu menyahut. Katanya, “Layang-layang membuat kami merasa hebat.”
“Hebat? Mengapa demikian?”

“Karena…” Lukman hendak menjawab, tapi Dodi terlebih dahulu menyahut, “Kalau menang adu layangan, itu hebat!”

Aku, Lukman, dan Burhan memandang Dodi. Kami saling mengangguk.

“Ah, beradu layangan…,” gumam Pak Tua, “itukah yang membuatnya terasa menyenangkan?”

“Biasanya kami taruhan…,” kata Burhan, menunjukkan sengiran lebarnya. Burhan memang biasa menjadi bandar taruhan kami. Sebagai bandar, siapa pun yang menang, ia bakal tetap dapat bagian. Bahkan, tak jarang ia justru mendapat lebih banyak daripada kami yang memasang taruhan. Saat musim layang-layang, Burhan yang paling banyak untung.

Tapi… kurasa Pak Tua tidak mengharapkan jawaban ini. Ada yang lain, perasaanku mengatakan ada sesuatu yang lain.

“Mungkin,” kataku ragu-ragu, “karena itu seperti impian.” Aku mengatakannya nyaris berbisik. Itu konyol, aku tahu. Tapi, itulah yang kurasakan saat bermain layang-layang. Bukan taruhan atau apa—aku memang tidak pernah mengadu layanganku, tapi menjaganya tetap di langit selama mungkin. Bahkan, jika bisa, aku ingin itu terus di sana dan tak pernah turun. Sayangnya, paling lama layang-layang bisa bertahan satu atau dua hari saja. Jika tidak segera diturunkan, bisa-bisa itu turun sendiri dan jatuh entah di mana saat malam atau dini hari.

“Benar,” kata Pak Tua, mengejutkanku karena ia tersenyum menatapku. Senyum yang seperti merindukan sesuatu. Senyum pedih yang tergambar jelas di mata kelabunya yang berkaca-kaca.

“Pernahkah kalian mendengar kisah tentang lelayang purba?”

Aku dan ketiga kawanku saling pandang, lalu menatap Pak Tua. Dodi yang mewakili kami bertanya, “Apakah itu layang-layang yang Pak Tua pungut saat itu?”

Pak Tua mengangguk. “Benar, benar,” katanya, berdiri perlahan. “Kalian mau melihatnya?”

Bahkan tanpa menunggu jawaban kami, Pak Tua telah tertatih masuk ke rumahnya. Tidak tegak, ia sungguh-sungguh telah jauh melampaui masa separuh usia.

Saat itu, aku yang memutuskan berdiri pertama kali dan mengikuti Pak Tua masuk, disusul oleh Dodi, lalu Burhan dan Lukman. Apa yang disebut ‘rumah’ itu begitu sempit. Dindingnya pun merupakan gabungan dari gedhek dan papan-papan kayu bekas juga pasak-pasak ala kadarnya. Dan, di rumah sempit itu, telah penuh pula oleh tumpukan layang-layang, baik yang masih berupa kerangka maupun yang telah jadi.

Pak Tua menuju satu bilik, dan kami menunggu di antara tumpukan layang-layang. Saling pandang dan mengedikkan bahu. Tak ada kursi di sini, jadi kami duduk begitu saja di lantai tanah, seperti ketika di luar rumah tadi.

Ketika Pak Tua keluar, ia membawa sebuah layang-layang di tangannya. Layang-layang dari kresek hitam yang telah koyak-koyak. Bahkan, hanya dengan melihatnya saja kami tahu itu telah sangat rapuh, menunjukkan kresek yang telah sangat tua dan rapuh oleh panas, angin, juga hujan.

Sambil duduk dengan perlahan di depan kami, Pak Tua berkata, “Ini adalah impianku.”

“Benar,” katanya lagi sebelum kami sempat mengucapkan apa pun, “aku memilihnya dari bambu yang terbaik, potongan terbaik, dan merautnya dengan penuh kasih. Kutimang ia agar dapat seimbang, kusambungkan ujung-ujungnya dengan benang-benang cinta yang tak akan dapat putus oleh apa pun. Lihat? Ia bahkan masih kokoh meski pakaiannya telah begitu koyak.”

Aku sedikit ragu dengan ‘benang-benang cinta’ itu, tapi benang-benang itu memang sungguh masih terlihat kokoh. Padahal, jika ini memang sepurba kisahnya, semestinya benang-benang itu tak akan sekokoh ini. Pak Tua memandangi layang-layang itu dengan penuh kerinduan, seolah itu adalah miliknya yang berharga, yang telah begitu lama menghilang. Tapi, mungkinkah seseorang bisa begitu menyayangi sebuah layang-layang?

Pak Tua berpaling menatapku. Katanya, “Mengapakah kau berkata itu seperti impian?”

Sesungguhnya, tadi aku hanya mengatakan apa yang terlintas di pikiranku. Tapi, saat memikirkannya sekarang, aku mungkin sedikit mengerti. “Karena,” kataku, “menjaga layang-layang itu seperti menjaga impianku agar tetap mengangkasa, menjauhkannya dari bahaya agar ia aman, agar ia tak putus….”

Pak Tua mengangguk-angguk, tampak puas. “Benar,” katanya, “menjaganya agar tetap mengangkasa, menjauhkannya dari bahaya agar ia aman, agar ia tak putus di tengah jalan dan terombang-ambing oleh angin yang tak berpihak, yang kadang baik namun juga bisa menjadi sangat mengerikan. Karena, impian yang terputus itu akan begitu sulit untuk ditangkap kembali.”

Kami diam, merenungi setiap ucapan Pak Tua. Kurasa, meski masih anak-anak, sedikit banyak kami mengerti juga, meski tak sepenuhnya. Kami begitu menyukai bermain layang-layang. Hanya saja…, kebanyakan dari kami tak menyadari betapa berharganya itu. Seperti ketiga kawanku ini, misalnya, dengan mudah mereka bisa memasang taruhan, beradu layang-layang dan tertawa bangga saat berhasil memutuskan layangan lawan.

Pak Tua tersenyum melihat kami termenung. Ujarnya, “Bermainlah layang-layang sesuka kalian. Tetapi, jangan membuatnya menjadi taruhan, dan jangan memutuskan benang layang-layang, sekalipun itu milik musuh kalian yang kalian benci. Karena, kalian mungkin tidak tahu betapa layang-layang bisa menjadi begitu berharga bagi seseorang.”

“Pak Tua,” kataku ragu-ragu. Pikiran ini melintas begitu saja di benakku. Rasanya seperti sengatan listrik yang datang tiba-tiba, mendesakku untuk menanyakannya. “Di manakah anak-anak Pak Tua?”

Pak Tua menghela napas. Tersenyum, ia berkata, “Putra tunggalku telah menjelma lelayang purba.”

Aku menatap Pak Tua, mencoba memahami matanya yang kelabu dan berkaca-kaca. Tapi, yang kulihat hanyalah kabut.

Nulis adalah platform citizen journalism, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis

[CERPEN] Pak Tua dan Kisah Lelayang Purba, oleh: Mega Yohana

log in

Become a part of our community!
Belum daftar? Klik
Daftar

reset password

Back to
log in

Daftar

Join NULIS Community

Back to
log in