Ketulusan Arini Hingga Akhir


IMG_20170813_002052_276

Cerita ini saya ambil dari Puisi yang saya tulis pada 15 Desember 2010 yang berjudul “KESETIAAN CINTA” dan 16 Desember 2010 yang berjudul “HINGGA AKHIR NAFASMU (Jawaban “KESETIAAN CINTA”)”

Didalam puisi tersebut menceritakan sebuah kesetiaan Arini Kuswandari yang menanti kepergian Andika Putra Kusuma untuk menggapai cita citanya. Mohon maaf jika terdapat kesamaan nama dan tempat, itu bukan unsur kesengajaan, akan tetapi secara kebetulan saja. Semoga dari isi cerita yang aku tuliskan, kita semua bisa mengambil dan memetik hikmah yang terkandung di dalamnya.

Pada awalnya Arini merasa canggung dan takut kalau kalau keluarga Andika tidak bisa menerima keberadaan Arini, apalagi mau menerima Arini sebagai menantunya. Karena Arini menyadari dia berasal dari keluarga yang sederhana, ayahnya bekerja sebagai buruh pabrik dan ibunya hanya mempunyai usaha warung kecil kecilan. Sedangkan Andika berasal dari keluarga yang serba kecukupan dan sangat terpandang. Ayah Andika pak Darmawan adalah pemilik perusahaan tempat Andika bekerja, sedangkan ibu Andika bu Mirna memiliki sebuah restoran. Namun meskipun Arini berasal dari keluarga yang sangat sederhana, nyatanya Arini beserta keluarganya bisa di terima oleh keluarga Andika.

“Ka… Rini takut nanti kalau orang tua Kaka tidak setuju dengan hubungan kita bagaimana…? Rini takut karena Rini dari keluarga miskin dan tidak pantas menjalin hubungan dengan Kaka.” Kata Arini kepada Andika.

“Iya betul Andika… Apa orang tua Andika setuju kalau Andika berpacaran dengan adik saya…? Andika tahu sendiri keadaan keluarga kami bagaimana…? Bapak cuma buruh pabrik, ibu setiap hari cuma mengurus warung kecil. Sedangkan keluarga Andika sangat terpandang, kami khawatir kalau nanti Arini dianggap mencintai Andika hanya karena harta.” Neni kakak Arini menambahkan.

“Bapak… Ibu… Kakak… Dan juga Arini… Tidak usah khawatir dengan keluarga dan kedua orang tua saya, Insya Allah mereka semua tidak seperti apa yang di pikirkan. Bagaimana kalau besok hari minggu keluarga disini saya undang ke rumah saya untuk bertemu dan berkenalan dengan keluarga saya. Nanti silahkan berikan penilaian. Bagaimana…?” Kata Andika memberikan penawaran.

“Baiklah kalau begitu, kami sekeluarga bersedia memenuhi undangan nak Andika. Bukan begitu bu…?” kata pak Bisono menerima tawaran Andika yang di jawab dengan anggukan kepala bu Siti ibu Arini.

“Baik kalau begitu, saya mohon pamit terlebih dahulu untuk segera memberi kabar kepada orang tua saya bahwa saya akan mengundang Arini sekalian bapak dan ibu sekeluarga.” Kata Andika sambil mohon diri.

Sepeninggal Andika dari rumah Arini…

“Rin… Kalau Kakak nilai, Andika itu orangnya baik, sopan dan jujur. Tapi kita belum tahu bagaimana sikap kedua orang tuanya dan keluarganya terhadap keluarga kita…?” kata Neni.

“Iya Kak… Rini tahu itu. Rini juga khawatir Kak, jangan jangan nanti kita semua tidak di terima oleh keluarga Andika. Soalnya waktu itu Rini pernah di jemput Andika di tempat kerja Rini, Andika sengaja lewat rumahnya dan memberi tahu kalau yang baru saja di lewati itu rumah Andika dan keluarganya. Dan sebelum lewat rumahnya, Rini di ajak mampir dulu ke sebuah restoran yang ternyata milik Mama nya. Wah Kak… Rumahnya besar dan mewah, apalagi restoran milik Mamanya, restoran mewah Kak…” cerita Arini kepada kakaknya.

“Iya Rin… Tapi kamu harus tahu siapa kita… Kamu jangan melihat ke atas dan jangan pernah kamu bermimpi untuk bisa meraih bulan di atas sana.” Kata bu Siti menasehati Arini.

“Betul kata ibumu Rin… Kamu jangan terlalu tinggi melihat keatas, kamu harus menyadari bahwa. kita ini siapa dan bagaimana keadaan kita. Tapi bapak berharap apa yang di katakan Andika itu benar dan nyata.” Kata pak Bisono.

“Tapi yang jelas kita semua berdoa semoga apa yang kita khawatirkan itu tidak terjadi.” Kata bu Siti.

“Amiiiinnn….” Jawab pak Bisono, Arini dan Neni kompak.

Di rumah Andika sendiri, ketika pak Darmawan, bu Mirna, Rani, bi Parni, pak Jono sedang berkumpul dan menyaksikan acara televisi bersama, tiba tiba Andika pulang.

“Assalamu’alaikum…” sapa Andika ketika sudah masuk ke dalam rumah.

“Wa’alaikumsalam…” jawab semua yang ada di ruangan itu.

“Oya Ma, Pa… Besok hari minggu kita tidak ada acara kemana mana kan…?” tanya Andika kemudian.

“Tidak ada… Memangnya kenapa dan ada apa…?” tanya pak Darmawan.

“Iya Andika, ada apa…? Sepertinya ada sesuatu…?” tanya bu Mirna.

“Gini Ma, Pa… Kalau besok hari minggu kita semua tidak ada acara, Kaka punya rencana mau undang teman Kaka dan keluarganya untuk ke rumah kita. Biar kenal sama keluarga kita. Gimana kalau menurut Mama sama Papa…?” Andika mulai menjelaskan maksudnya.

“Ya kalau mama sih setuju saja, coba kamu tanya sama papa kamu.” Jawab bu Mirna.

“Gimana Pa…?” tanya Andika

“Papa juga setuju kalau memang itu rencana kamu. Kira kira siapa yang mau kamu undang…? Jam berapa…?” kata pak Darmawan sambil bertanya.

“Namanya Arini, pa. Ayahnya namanya pak Bisono, ibunya bu Siti, adiknya Arini namanya Linda dia se usia Rani, kakaknya namanya kak Neni, suami kak Neni namanya Damar dan anaknya kak Neni namanya Randa dan Rendi. Kaka belum bilang jam nya sama mereka, cuma Kaka baru mengundang mereka ke rumah saja.” Jawab Andika sambil menerangkan.

“Baiklah kalau begitu terserah kamu saja jam nya, yang penting jangan terlalu pagi, ya kalau bisa jam 10.00 WIB.” Jawab pak Darmawan.

“Tapi ngomong ngomong, Arini itu siapa…? Sepertinya kamu sudah kenal akrab dengan keluarganya Ka…?” tanya bu Mirna.

“Maaf Ma… Mama sama Papa tidak marah kan kalau Kaka terus terang…?” tanya Andika.

“Justru Mama sama Papa akan sangat marah kalau Kaka berbohong. Mama sama Papa tidak pernah mengajarkan Kaka, Rani dan juga Tedi untuk berbohong kepada siapapun. Mama sama Papa akan sangat menghargai kejujuran Kaka. Ingat Kaka, kamu bisa berbohong kepada Mama, Papa, Rani, Tedi, bi Parni, pak Jono dan juga orang orang yang ada di sekeliling kita. Tapi kamu tidak akan pernah bisa membohongi Allah.” Jawab bu Mirna sambil menasehati Andika untuk berkata jujur, dan pak Darmawan, pak Jono, Rani dan juga bi Parni hanya mengangguk angguk mendengar penuturan bu Mirna yang sangat bijak.

“Iya Ma, Kaka mengerti, terimakasih sebelumnya. Arini memang pacar Kaka Ma. Dia bekerja di toko kecil sebagai pelayan toko, pak Bisono bekerja sebagai buruh pabrik, bu Siti ibunya, hanya mengurus warung kecil miliknya, Linda adiknya sejak lulus SMA membantu ibunya mengurus warung, sedangkan Kak Neni dan suaminya bekerja di Koperasi pabrik tempak pak Bisono bekerja.” Andika berkata terus terang kepada kedua orang tuanya.

“Ya sudah tidak apa apa, asal itu sudah menjadi pilihan kamu, papa bisa apa….? Tugas papa sama mama kamu hanya bisa merestui hubungan kalian.” Jawab pak Darmawan yang membuat hati Andika senang mendengar perkataaan yang keluar dari mulut ayahnya.

“Jadi…. Jadi…. Papa sama mama setuju aku pacaran sama Arini…? Meskipun mereka bukan berasal dari keluarga yang sederhana…?” tanya Andika.

“Kalau memang itu sudah pilihan kamu sendiri, mau gimana lagi…? Tapi yang jelas Mama dan Papa mau ketemu sama Arini dengan keluarganya terlebih dahulu. Sampaikan pada keluarga Arini, kami tunggu ke datangannya besok hari minggu di rumah.” Kata bu Mirna.

“Terimakasih Ma, Pa. Besok Kaka sampaikan pada keluarga mereka, besok Kaka sampaikan kabar gembira ini. Keluarga Arini pasti senang mendengarnya.” Kata Andika sambil memeluk erat ke dua orang tuanya.

********************

Dan tibalah hari yang di nanti nanti oleh keluarga Arini, mereka sekeluargapun datang ke rumah Andika untuk memenuhi undangan. Mereka memakai pakaian yang terbagus menurut ukuran mereka, dengan mengendarai angkutan umum mereka sekeluarga berangkat menuju rumah Andika. Sesampainya di depan rumah Andika, mereka semua tercengang melihat rumah Andika yang sangat megah itu. Mereka menjadi merasa ragu dan canggung untuk melangkahkan kaki mereka untuk masuk ke halaman rumah Andika. Di saat mereka masih tercengang dan merasa cangggung, pak Jono yang mengetahui itu segera keluar dan menyapa pak Bisono.

“Maaf pak, ada apa…? Mau mencari siapa…?” tanya pak Jono ramah.

“Oh… Maaf pak, apa benar ini rumah mas Andika putranya pak Darmawan…?” tanya pak Bisono sopan.

“Ooooh mas Kaka…? Iya betul pak… Ini keluarga mba Arini pacarnya mas Kaka ya…?” tanya pak Jono.

“Iya pak, kami keluarga dari Arini, saya Bisono, dan ini istri saya Siti, itu Arini, Neni, Damar, Linda dan cucu saya Randa dan Rendi. Maaf bapak sendiri siapa…? Kok sudah tahu nama anak saya Arini…” tanya pak bisono sambil memperkenalkan keluarganya.

“Oooh saya Jono, pak… Saya pembantu di sini. Kemarin mas Kaka sudah cerita kalau hari ini keluarga mba Arini mau datang ke sini. Ini ya yang namanya mba Arini…? Wah cantik pak… Mas Kaka tidak salah pilih.” Kata pak Jono sambil memperkenalkan diri dan memuji Arini yang memang berwajah cantik.

“Ah bapak bisa saja…?” jawab Arini singkat.

Dalam hati keluarga pak Bisono termasuk Arini merasa bingung dan heran ketika pak Jono menyebut dirinya sebagai pembantu di rumah itu, karena pak Jono terlihat bukan seperti pembantu, dan awalnya keluarga pak Bisono mengira bahwa pak Jono adalah bagian keluarga Andika.

“Mari pak, bu silahkan masuk kedalam, sudah di tunggu.” Kata pak Jono mempersilahkan masuk.

Dan benar saja ketika keluarga pak Bisono memasuki rumah pak Darmawan, ternyata di dalam memang sudah di tunggu oleh pak Darmawan berserta istri juga Andika, Linda, Tedi dan bi Parni.

“Assalamu’alaikum…” sapa pak Bisono mengucap salam.

“Wa’alaikumsalam…” jawab yang ada di dalam rumah kompak.

“Pa, Ma… Ini keluarga Arini, ini pak Bisono, dan ini istrinya bu Siti, itu Arini, ini Kak Neni kakak Arini, ini Kak Damar suami Kak Neni, ini Linda adik Arini dan Randa dan Rendi anak Kak Neni dan Kak Damar.” Kata Andika memperkenalkan keluarga Arini kepada kedua orang tuanya ketika mereka semua sudah berada di dalam rumah, dan mereka pun saling berjabat tangan.

“O iya, pak Bisono. Ini Papa saya Darmawan, ini Mama saya Mirna, ini adik saya yang paling centil Rani namanya, ini pak Jono, ini bi Parni istri pak Jono dan ini Tedi anak pak Jono dan bi Parni. Pak Jono dan bi Parni yang membantu keluarga kami pak, dan mereka sudah kami anggap keluarga kami sendiri.” Kata Andika memperkenalkan keluarganya dan juga pak Jono beserta istri dan anaknya.

“Mari silahkan duduk, anggap saja seperti di rumah sendiri.” Kata pak Darmawan mempersilahkan duduk.

“Arini kerja dimana sayang…? Dulu kamu kuliah dimana…? Fakultas apa…?” tanya bu Mirna dan pertanyaan itu mengejutkan Arini beserta keluarganya.

“Kalau pak Bisono kerja dimana…? Bu Siti kerja dimana…? Kemudian Mba Neni dan Mas Damar kerja dimana…? Dan Linda kuliah dimana…?” kata pak Darmawan memberondong pertanyaan meskipun pak Darmawan dan juga bu Mirna sudah mengetahuinya dari cerita Andika beberapa hari yang lalu sebelum keluarga Arini datang kerumah Andika, karena pak Darmawan dan bu Mirna ingin mengetahui kejujuran dari keluarga Arini.

Pertanyaan itu sulit untuk di jawab oleh keluarga Arini. Mereka takut jika mereka berbicara apa adanya, maka mereka tidak akan bisa di terima seramah pada saat mereka pertama kali memasuki halaman rumah itu. Keringat dingin mulai membanjiri tubuh mereka, meskipun di dalam ruangan itu AC sedang menyala. Pak Bisono, Neni, Damar, Arini dan juga bu Siti bingung untuk menjawab, mereka meremas remas tangan mereka dan nampak gugup di hadapan pak Darmawan dan juga bu Mirna.

“Sebelumnya kami minta maaf kepada pak Darmawan sekeluarga….” Pak Bisono membuka percakapan dan berusaha tenang.

“Pertama kami sekeluarga mengucapkan banyak terimakasih, karena kedatangan kami kemari sudah di terima dan di sambut dengan baik. Dan yang kedua kami juga mohon maaf jika kedatangan kami sekeluarga kurang berkenan di hati. Pada dasarnya kami sekeluarga menyadari siapa kami dan dari mana kami berasal, karena tidak sepantasnya kami sekeluarga berada disini…..” Pak Bisono terdiam sejenak dan yang lain pun hanya menyimak apa yang di sampaikan pak Bisono.

“Namun…” pak Bisono melanjutkan.

“Kami selaku orang tua dan keluarga mohon maaf yang sebesar besarnya, karena kelancangan putri kami Arini yang sudah berani menjalin hubungan cinta dengan mas Andika yang semestinya Arini tidak pantas untuk mencintai mas Andika. Karena kami ini berasal dari keluarga miskin tidak seperti mas Andika. Saya hanya bekerja sebagai buruh pabrik, sedangkan istri saya mengurus rumah tangga dan membuka usaha warung kecil kecilan. Arini hanya pelayan toko kecil, karena dia hanya tamatan SMA. Neni dan Damar bekerja dan membantu di Koperasi pabrik tempat saya bekerja. Sedangkan Linda sejak tamat SMA, dia membantu istri saya di rumah, karena kami tidak bisa membiayai Linda kuliah. Akan tetapi kami mensyukuri itu semua, dan kami sekeluarga menjalani dengan apa adanya. Begitulah latar belakang keluarga kami, dan itu semua kami kembalikan kepada pak Darmawan sekeluarga, kalau memang Arini tidak pantas mencintai mas Andika, kami pun bisa menerima. Dan kalau memang keberadaan kaluarga kami tidak bisa di terima oleh keluarga pak Darmawan, kami pun juga ikhlas untuk menerima apa yang menjadi keputusan pak Darmawan sekeluarga.” Kata pak Bisono panjang lebar menceritakan keberadaan kehidupan keluarganya.

Mendengar penuturan pak Bisono yang panjang lebar itu, pak Darmawan dan bu Mirna pun terdiam cukup lama sehingga membuat pak Bisono, bu Siti, Arini, Neni, dan Damar semakin cemas dengan jawaban pak Darmawan. Tak hanya keluarga Arini saja yang merasa cemas, kecemasan itupun dirasakan juga oleh Andika. Linda, Tedi, Rani, Randa dan Rendi yang semula mereka berada di luar, karena mengetahui di dalam rumah sedang hening, mereka pun penasaran dengan apa yang terjadi. Akhirnya mereka masuk ke dalam rumah untuk mengetahui apa yang terjadi.

“Ehm…. Baiklah….” Pak Darmawan membuka suara memecah keheningan.

“Arini…? Apa kamu juga benar benar mencintai Andika…? Apa kamu siap menerima resiko dan konsekwensinya jika kami merestui hubungan kamu dengan Andika…?” Pak Darmawan bertanya pada Arini dan membuat Arini beserta keluarganya terkejut dengan pertanyaan tersebut.

“Iya pak, saya benar benar mencintai dan menyayangi Kaka. Saya siap menerima resiko dan konsekwensinya walaupun itu saya harus di pisahkan oleh Kaka, saya ikhlas. Karena saya menyadari dari keluarga mana saya berasal.” Kata Arini sambil menitikkan air mata. Dan Linda yang mendengar penuturan kakaknya itupun ikut menitikkan air matanya pula.

“Benar Arini… Kamu harus siap menerima apapun keputusan saya, dan itu berlaku juga untuk seluruh keluarga kamu. Bagaimana kamu siap…?” tanya pak Darmawan lagi.

Arini terdiam beberapa saat, dan pak Darmawan pun kembali bertanya.

“Bagaimana Arini…?” tanya pak Darmawan.

“Baiklah pak, saya siap apa pun itu keputusannya. Dan saya juga minta maaf kepada keluarga saya, gara gara saya menjalin hubungan dengan Kaka, mereka jadi ikut terkena imbasnya.” Jawab Arini sambil terisak dan meminta maaf kepada keluarganya sendiri.

“Baiklah…. Mulai besok, pak Bisono, Arini, Damar dan Neni harus keluar dari tempat kerja masing masing.” Kata pak Darmawan.

“Deg…” jantung keluarga pak Bisono seakan berhenti berdetak mendengar perkataan pak Darmawan.

“Maaf pak Darmawan, kalau kami semua keluar dari tempat kerja kami masing masing, lantas kami nanti mau makan apa…? Sedangkan penghasilan dari warung tidak mencukupi untuk kebutuhan kami sekeluarga. Apa tidak ada kebijaksanaan lain pak…” jawab pak Bisono lemas. Dan Linda pun seakan tidak percaya mendengar itu semua.

“Maafkan Arini pak…” kata Arini kepada pak Bisono.

“Maaf pak Bisono, itu keputusan saya. Dan itu sudah tidak bisa di rubah lagi.” Kata pak Darmawan

“Baiklah pak, kami sekeluarga mengerti dan maafkan kami semua.” Jawab pak Bisono. Dan Arini pun hanya bisa menangis.

“Tapi saya punya satu alasan yang kuat dan sudah saya putuskan bersama dengan istri saya, kenapa anda semua harus keluar dari tempat kerja anda masing masing.” Kata pak Darmawan lagi.

“Maaf, kalau boleh kami tahu apa alasannya…?” tanya Damar memberanikan diri.

“Pertanyaan yang bagus.” Jawab pak Darmawan.

“Begini…”

“Pertama Arini harus siap menerima resiko dan konsekwensinya. Resikonya, karena Andika itu agak sedikit bandel dan keras kepala, jadi Arini harus bisa menerima semua kekurangan Andika dan dia harus bisa membuat Andika tidak jauh dari apa yang di kehendaki oleh Allah. Konsekwensinya, Arini harus keluar dari tempatnya bekerja karena Arini kami angkat sebagai Manager dan Pengelola restoran milik istri saya. Kedua, pak Bisono saya angkat sebagai Kepala Bagian Personalia di perusahaan saya. Ketiga, Neni saya angkat sebagai Manager Keuangan dan Bendahara di perusahaan saya, dan Damar saya angkat sebagai Manager dan Kepala Bagian Operasional di perusahaan saya. Ke empat, Ibu Siti akan kami berikan modal untuk membesarkan usaha warungnya. Ke lima, Linda harus mau kuliah dan lulus hingga sarjana bersama dengan Tedi dan Rani. Ke enam, Randa dan Rendi biaya sekolahnya kami yang menanggung hingga nanti lulus sarjana. Dan yang terakhir, itu semua kalian tidak boleh untuk menolaknya. Bagaimana kalian semua setuju dengan keputusan saya…?” kata pak Darmawan panjang lebar.

Mendengar apa yang di sampaikan pak Darmawan, pak Bisono beserta keluarganya seakan tidak percaya dan sama sekali tak menyangka akan apa yang menjadi keputusan dan resiko serta konsekwensi yang harus mereka terima. Mereka sangat bersyukur atas karunia Allah yang di berikan kepada mereka semua melalui keluarga Andika.

“Kami sekeluarga mengucapkan banyak terimkasih kepada keluarga pak Darmawan atas ketulusan dan kebaikan keluarga pak Darmawan. Kami sama sekali tidak menduga akan sebahagia ini. Sekali lagi terimakasih.” Kata pak Bisono.

“Maaf pak, jangan berterimakasih sama saya. Berterimakasihlah pada Allah, karena ini semua Allah yang mengatur. Saya dan keluarga hanya sebagai perantaraNya saja. Materi masih bisa di cari, selama itu dengan cara yang halal. Namun persaudaraan dan kekeluargaan sulit untuk di dapat, begitu juga dengan kejujuran dan keikhlasan hati bagi kami itu lebih utama. Kami membuat keputusan itu karena ketulusan dan kejujuran hati keluarga pak Bisono. Dan kami pun merestui hubungan Arini dan Andika” Jawab bu Mirna.

Semenjak pertemuan itu, hubungan Arini dan Andika pun terus berlanjut. Mereka berdua menjalani hubungan mereka dengan penuh suka cita. Dan semenjak itu pula kehidupan keluarga Arini berubah dan rumah yang dulu di tempati oleh keluarga Arini sebelum bertemu dengan keluarga Andika sudah tidak di tempati lagi karena sudah di jual. Dan kini keluarga Arini menempati rumah baru yang lebih layak untuk di tempati hasil pemberian orang tua Andika. Sedangkan Neni dan Damar juga sudah di berikan sebuah rumah dan sudah tidak lagi menjadi satu dengan pak Bisono. Begitu juga dengan Linda, Linda terkadang tinggal di rumah Andika bersama dengan Rani, namun terkadang juga pulang ke rumah pak Bisono. Dan usaha yang di buka oleh bu Siti pun kiat pesat perkembangannya karena pemberian modal dari pak Darmawan. Begitu juga dengan Randa dan Rendi, mereka lebih sering tinggal di rumah Andika karena permintaan Rani.

********************

Pada suatu ketika Andika mendapat tugas belajar dari perusahaan untuk kenaikan jabatan. Karena meskipun Andika adalah anak dari pemilik perusahaan itu, jika memang dia ingin naik jabatan, dia pun harus mengikuti study atau ujian kelayakan. Karena itu telah di terapkan oleh pak Darmawan selaku pimpinan dan pemilik perusahaan. Dan itu tidak hanya berlaku untuk Andika, namun itu berlaku untuk seluruh karyawan yang bekerja pada perusahaan itu.

“Rin… Aku ada tugas dari kantor untuk study dan ujian untuk kenaikan jabatan.” Kata Andika kepada Arini pada suatu hari.

“Wah bagus dong Ka…? Kapan itu…? Terus jabatannya apa Ka…?” tanya Arini.

“Sebagai Kepala Cabang perusahaan Rin, tapi itu masih lama karena aku harus melanjutkan study dulu.” Jawab Andika.

“Loh memangnya berapa lama ujianny Ka…?” tanya Arini lagi.

“Ya kira kira selama satu tahun. Aku harus bisa mendalami semuanya tentang kepemimpinan dulu.” Jawab Andika.

“Lama juga ya…? Lalu itu ujiannya di mana…?” tanya Arini masih penasaran.

“Lumayan… Aku harus ke Jepang untuk menempuh study itu Rin.” Jawab Andika.

“Jepang…? Selama satu tahun…?” Arini seakan tidak percaya dengan apa yang di dengarnya.

“Iya Rin, aku harus ke Jepang…” Jawab Andika pelan.

“Ka…” Arini tak melanjutkan perkataannya dan di tatapnya dalam dalam wajah Andika.

“Kaka serius mau ke Jepang…? Setahun Kaka mau meninggalkan Rini…?” dengan terisak Arini melanjutkan perkataannya. Andika pun hanya terdiam tanpa mengucap sepatah kata.

Andika merasa bimbang dan ragu, akankah Andika mengambil keputusan untuk menempuh ujian itu, ataukah dia harus melewatkan kesempatan itu demi Arini.

“Ka… Rini siap dan ikhlas kalau Kaka memang ingin pergi, karena itu juga demi masa depan Kaka dan untuk masa depan kita juga nantinya. Rini Ikhlas Ka… Silahkan Kaka ambil kesempatan itu. Di sini Rini akan selalu menunggu sampai Kaka kembali nanti.” Akhirnya Arini memberikan jawaban yang membuat hati Andika agak sedikit tenang.

“Terimakasih Rin… Insya Allah setelah aku pulang dari Jepang nanti, aku akan melamar kamu.” Jawab Andika dan di jawab dengan anggukan kepala oleh Arini.

Andika tidak sabar lagi menunggu hari untuk segera meninggalkan kota yang penuh dengan kenangan itu saat bersama dengan Arini. Dan hari yang di tunggu pun tiba, Andika sedang berkemas menyiapkan segala keperluannya selama dia menjalankan tugasnya di Jepang. Di saat Andika tengah sibuk untuk mempersiapkan segala sesuatunya, tiba tiba dia mendengar langkah kaki menuju ke arahnya dan ketika menoleh, Andika terkejut karena yang datang adalah Arini dengan mata yang sembab karena habis menangis.

“Arini…? Ada apa…? Kenapa menangis…?” tanya Andika terkejut dan bertanya.

“Ngga Ka, ngga ada apa apa…” jawab Arini sambil menyeka air matanya.

“Ayo duduk, ceritakan ada apa…?” tanya Andika yang masih penasaran.

“Ngga Ka, ngga ada apa apa…” berulang kali Arini menjawab demikian.

“Kalau ngga ada apa apa, kenapa kamu menangis…?” tanya Andika.

“Kapan kamu berangkat ke Jepang Ka…?” Arini balik bertanya.

“Hari ini Rin aku berangkat, jam 5 sore nanti aku sudah harus ada di Bandara.” Jawab Andika, Arini tertunduk lesu dan air matanya pun kembali mengalir.

“Apa tidak bisa di tunda Ka…?” tanya Arini di sela isak tangisnya.

“Arini… Aku menjalankan tugas dari kantor. Setahun itu tidak lama, yakinlah aku pasti kembali untukmu.” Jawab Andika.

“Iya Ka, Rini mengerti. Dan Rini akan selalu menunggu sampai Kaka kembali nanti. Rini cuma bisa berdoa, semoga apa yang Kaka jalani selama di Jepang nanti sukses dan berhasil. Dan Rini harap Kaka tidak melupakan cinta Rini terhadap Kaka, juga sholat lima waktunya jangan sampai di lupakan.” Kata Arini yang juga mengingatkan Andika untuk tetap menjalankan Sholat lima waktunya.

“Amin… Terimakasih Rin. Insya Allah aku akan selalu ingat sama kamu dan semua pesan kamu.” Jawab Andika sambil memeluk erat tubuh Arini dengan penuh kelembutan.

“Aduh Rin… Maaf… Ini sudah jam tiga, aku harus siap siap dulu, soalnya nanti jam lima aku sudah harus ada di Bandara.” Kata Andika pada Arini.

“Oooh iya maaf, aku jadi menyita waktu kamu Ka… Ya sudah hati hati di jalan, dan yang pasti jangan lupakan aku ya Ka…?” kata Arini sambil meminta maaf dan kembali mengingatkan.

“Oke… Insya Allah aku tidak akan melupakan kamu Rin…” jawab Andika.

Kemudian Andika pun segera melanjutkan berkemasnya dan segera pergi mandi. Tepat pukul 4 sore, Andika pun berangkat ke Bandara bersama dengan Arini dan diantar oleh pak Jono. Setibanya di Bandara, ternyata Linda, Pak Darmawan, Bu Mirna, Bu Siti, Pak Bisono, Tedi, Rani, Damar, Neni, Bi Parni, Randa dan Rendi sudah berada di Bandara yang ingin melepas kepergian Andika ke Jepang untuk menjalankan study.

“Loh pada kumpul di sini semua rupanya…? Pantas tadi di rumah sepi.” tanya Andika.

“Iya kami semua mau melepas kepergian kamu ke Jepang, Ka…” Jawab bu Mirna menjelaskan.

“Oooh ya sudah kalau begitu.” Kata Andika singkat.

“Baiklah, kalau begitu saya pamit. Terimakasih untuk semuanya yang sudah mengantar saya. Saya hanya mohon doa dari kalian semua, doakan saya semoga semua yang saya kerjakan di Jepang selama saya study nanti dapat berjalan lancar dan berhasil, sehingga saya cepat kembali ke Jakarta dan melamar Arini.” Kata Andika berpamitan dan memohon doa.

“Amiiin… Kami semua disini akan selalu berdoa untuk keberhasilan nak Andika. Selamat Jalan, dan berhati hatilah di sana.” Jawab pak Bisono.

“Semoga sukses Andika. Papa dan Mama selalu berdoa untuk keberhasilanmu. Hati hati di sana dan jaga kesehatan mu.” Sambung pak Darmawan.

“Sukses ya Kak…?” Rani, Tedi dan Linda pun tak mau ketinggalan.

“Amiiin… Terimakasih semuanya.” Jawab Andika.

“Ka…” panggil Arini ketika Andika akan melangkahkan kakinya meninggalkan mereka dan menuju pesawat yang sudah menunggunya.

“Rin, aku berangkat… Jaga kesehatan kamu. Doakan aku semoga aku berhasil dalam study nanti. Nanti setelah aku kembali, aku akan segera melamar kamu. Sudah jangan menangis, aku tidak mau lagi melihat kamu bersedih dan menangis. Aku sayang kamu Arini.” Kata Andika kepada Arini.

“Iya Ka… Hati hati di jalan, Rini akan selalu menunggu kepulangan Kaka. Rini juga sayang Kaka.” Jawab Arini sambil memeluk tubuh Kaka dan seakan tak ingin melepaskannya, namun akhirnya Arini sadar bahwa Andika harus pergi untuk menggapai semua cita citanya dan demi masa depan Andika juga masa depan Arini nantinya. Dan Arini pun kemudian melepaskan pelukannya, dan merelakan Andika untuk pergi melangkah masuk ke dalam pesawat yang sudah menunggunya.

Dengan lambaian tangan dan senyum penuh kesedihan, Arini mengiringi langkah Andika yang sedang menuju ke dalam pesawat. Dan tanpa di ketahui oleh Arini, air mata Andika pun jatuh menetes dari pelupuk mata Andika, namun buru buru di seka oleh Andika dan dia mempercepat langkahnya untuk segera masuk ke dalam pesawat.

********************

Enam bulan sudah berlalu sejak keberangkatan Andika. Dan hubungan Andika dengan Arini pun masih berjalan. Meskipun tidak dipungkiri sering terjadi permasalahan kecil di antara mereka. Akan tetapi, itu bisa di selesaikan secara baik baik dan kepala dingin. Namun ketika memasuki bulan ke Tujuh sejak kepergian Andika, Arini seakan mendapat suatu ujian untuk menggoyahkan cinta dan kesetiaannya kepada Andika.

“Ayolah Rin… Terima cintaku. Toh pacar kamu Andika tidak tahu kalau kamu disini punya pacar lagi…?” bujuk seorang lelaki yang memaksa Arini untuk menduakan Andika.

“Tidak Pram… Aku tidak mau mengecewakan Andika, dan aku tidak akan pernah menduakan cinta Andika kepadaku. Dan aku tidak mau menyalah gunakan kepercayaan yang sudah di berikan oleh Andika beserta keluarganya kepadaku.” Kata Arini kepada lelaki itu yang ternyata bernama Pramono. Pramono dulu adalah teman sekolah Arini yang kini juga telah sukses dan kekayaannya hampir sebanding dengan kekayaan yang di miliki oleh keluarga Andika.

“Alaaah… Apa kamu tahu kalau Andika juga setia sama kamu…? Apa kamu tahu kalau disana Andika tidak menduakan kamu…?” tanya Pramono kepada Arini, dan pertanyaan itu sebenarnya membuat hati Arini bimbang dan ragu.

“Benar juga kata Pramono… Bagaimana kalau Kaka di sana menduakan cintaku…? Sedangkan aku disini berusaha untuk menjaga kesucian cinta ini…? Ah tapi tidak mungkin, aku tahu Kaka tidak akan berbuat seperti itu dan aku percaya pada Kaka bahwa dia pun pasti juga akan setia kepada ku.” Kata Arini dalam hati.

“Rin…?!?!? Kok malah bengong…? Gimana…? Ayo dong…? Terima cintaku, atau kalau tidak…..” Pramono tidak melanjutkan perkataannya.

“Kalau tidak apa…? Kamu mau apa…?” tanya Arini.

“Ah tidak… Aku cuma bercanda aja. Oke aku tunggu jawaban kamu ya…? Aku janji, aku akan selalu membuat kamu bahagia. Kalau kamu mau terima cintaku, segala apa yang kamu minta pasti aku penuhi. Kamu mau minta apa…? Mobil…? Aku belikan. Emas, berlian…? Aku belikan. Atau bahkan rumah mewah sekalipun aku berikan.” Kata Pramono dengan sombongnya.

“Maaf Pram… Lebih baik simpan itu semua yang kamu katakan, atau lebih baik berikan saja kepada yang berhak. Dan maaf, aku bukan seorang wanita yang materialistis dan gila akan harta. Yang aku pegang itu hanyalah kepercayaan dan kesetiaan. Aku tidak mau menodai kesetiaan cintaku kepada Andika, dan aku tidak mau menodai kepercayaan yang telah di berikan oleh keluarga Andika terhadapku. Lebih baik aku tidak punya apa apa di bandingkan dengan aku punya barang barang semewah itu, akan tetapi aku harus mengkhianati kesetiaan dan kepercayaan yang sudah di berikan kepadaku. Harta bisa di beli, uang bisa di cari. Tapi kepercayaan dan kesetian itu sangat mahal harganya, bahkan dengan harta yang kamu miliki itu tidak akan pernah sanggup untuk membeli sebuah kepercayaan dan kesetiaan itu. Aku bukan takut miskin dan aku bukan takut akan kemarahan keluarga Andika atau Andika sekalipun. Tapi aku hanya takut akan kemurkaan Allah. Karena cintaku kepada Andika berdasarkan karena Allah, bukan karena harta, gemerlapnya dunia dan bukan hanya karena nafsu. Akan tetapi cintaku kepada Andika, hanya karena Allah semata.” Jawab Arini panjang lebar.

“Mmmm…. Salut aku Rin sama kamu. Aku minta maaf Rin, dan terimakasih kamu sudah menyadarkan aku. Andika pasti bangga dan bahagia mempunyai seorang kekasih seperti dirimu. Aku hanya bisa mendoakan semoga hubungan cintamu dengan Andika selalu mendapat Ridho dariNya. Amin. Maafkan aku Arini. Maaf.” Kata Pramono sambil memohon maaf kepada Arini, karena menyadari kesombongannya.

“Tidak apa apa Pram… Jangan berterimakasih kepadaku, tapi berterimakasihlah pada Allah. Karena pada dasarnya itu semua berasal dari Allah dan aku hanya sebagai perantaraNya. Dan sudah menjadi kewajiban kita semua untuk saling mengingatkan.” Jawab Arini.

“Terimakasih Rin. Aku tidak akan lagi memaksakan ke inginanku kepadamu untuk kamu terima cintaku. Dan aku berjanji tidak akan pernah lagi mengganggu hubungan mu dengan Andika.” Kata Pramono lagi.

“Berjanjilah pada Allah dan pada dirimu sendiri. Jangan berjanji sama aku, karena aku bukan Tuhan.” Jawab Arini sambil tersenyum.

Dan semenjak itu, Pramono pun tidak pernah lagi memaksakan Arini untuk menerima cintanya. Karena secara tidak langsung melalui kata kata Arini yang lembut itu masuk jauh ke dalam hatinya, hingga dia menyadari semua kesalahan dan kesombongan yang sudah pernah dia lakukan terhadap Arini dan bahkan terhadap siapa saja. Sebenarnya bisa saja Arini menerima cinta Pramono, toh Andika jauh berada di Jepang, dan masih beberapa bulan lagi Andika kembali.

Dan toh Andika juga tidak mengetahui bahwa Arini menduakan cintanya dengan Pramono. Namun yang ada di pikiran Arini pada saat itu…

“Aku bisa membohongi Andika. Aku bisa membohongi bu Mirna, pak Darmawan, bahkan kedua orang tua ku dan juga seluruh kelurga Andika serta keluargaku dan orang orang di sekelilingku. Tapi Allah…? Apa aku bisa membohongi Allah…? Sedangkan Allah selalu mengawasi setiap gerak langkahku. Aku bersembunyi di manapun Allah pasti mengetahui.”

Memasuki bulan ke Delapan semenjak Andika berada di Jepang, tepat jatuh pada bulan November yang bertepatan pula dengan hari ulang tahun Arini. Di saat Arini tengah merayakan hari ulang tahunnya itu, Arini merasa bingung dengan perubahan sifat dan sikap Andika. Yang biasanya dalam satu hari menghubungi Arini minimal lima kali, ini sedari pagi Andika sama sekali tidak menghubungi Arini dan nomor telephone Andika pun tidak aktif ketika Arini mencoba menghubungi Andika untuk mengingatkan bahwa saat itu Arini tengah berulang tahun. Dan ketika malam sudah menjelang, ketika seluruh keluarga berkumpul di rumah Andika untuk merayakan ulang tahun Arini, Andika tak juga menghubungi Arini dan telephonenya pun masih tidak bisa di hubungi.

“Selamat ulang tahun sayang…” ucap bu Mirna kepada Arini.

“Terimakasih Tante.” Jawab Arini.

“Selamat ulang tahun Arini.” Pak Darmawan pun ikut memberikan selamat kepada Arini.

“Terimakasih Om.”

“Selamat ulang tahun ya Kak…?” Linda, Rani dan Tedi pun ikut mengucapkan selamat. Dan semua yang ada di ruangan itu pun mengucapkan selamat ulang tahun kepada Arini.

Ketika tiba pada saat Arini hendak memotong kue ulang tahun, tiba tiba telephonenya berdering dan ketika dia melihat, ternyata itu dari Andika. Betapa senang dan bahagianya Arini mengetahui Andika menghubunginya melalui telephone, dan buru buru langsung diangkatnya, pisau pemotong roti yang yang di pegangnya pun langsung di letakkan.

“Assalamu’alaikum…” Andika mengucap salam dari seberang sana.

“Wa’alaikumsalam…” Arini menjawab salam dari Andika.

“Selamat ulang tahun Arini sayang… Semoga dengan bertambahnya usia kamu, kamu semakin diberikan kemudahan, sehat selalu dan semakin sayang kepadaku dan yang terutama semakin dekat kepada Allah dan sayang terhadap keluarga kamu terutama pada orang tua kamu.” Kata Andika.

“Amiin… Terimakasih Ka, semoga Allah mengabulkan semua doa Kaka.” Jawab Arini.

“Amiiin…”

“Rini kira Kaka lupa sama ulang tahun Rini, dan Rini kira ada apa kok seharian tidak menghubungi Rini dan Hp Kaka tidak aktif sehari penuh.” Kata Arini.

“Mana mungkin aku lupa…? Memang sengaja Hp aku matikan, karena untuk surprice he he he…” jawab Andika sambil tertawa.

“Ah Kaka jahat…. He he he…” kata Arini dengan manja. Dan mereka yang ada di ruangan itu pun tersenyum melihat tingkah laku Arini.

“Ya sudah kalau begitu, pasti di rumah sedang ada pesta merayakan ulang tahun kamu, silahkan di lanjutkan acaranya dan sampaikan salamku untuk semua yang berada di rumah.” Lanjut Andika.

“Kok Kaka tahu kalau di rumah ada acara merayakan ulang tahun ku….? Tapi cuma keluarga saja kok, tidak mengundang banyak tamu. Baik Ka, Rini sampikan salam Kaka untuk semua keluarga.” Jawab Arini.

“Ya tahu dong…. He he he…. Terimakasih Arini… Assalamu’alaikum…” kata Andika sambil menutup telephonenya.

“Wa’alaikumsalam…” jawab Arini meski telephone sudah di tutup oleh Andika.

Setelah Arini meletakkan telephonenya, acara pun di lanjutkan kembali. Dan Arini mendapat bingkisan dari Andika yang dikirim dari Jepang jauh sebelum hari ulang tahun Arini. Begitu di buka, Arini merasa terkejut dan senang, karena di dalam bingkisan itu terdapat sebuah liontin mungil dan bingkai foto yang di dalam bingkai foto itu terdapat foto Arini bersama Andika saat berlibur ke Puncak bersama keluarga mereka beberapa waktu lalu sebelum Andika berangkat ke Jepang. Arini pun merasa senang mendapat bingkisan tersebut, dan liontin itu segera di kalungkan di lehernya yang membuatnya menambah ayu dan cantik.

********************
Dua bulan setelah Arini merayakan ulang tahunnya dan tepat menjelang kepulangan Andika, Arini berniat ingin memberikan sebuah hadiah yang nantinya hadiah itu akan diberikan pada Andika. Tibalah saat Arini libur dari kerjanya dan meminta ijin kepada bu Mirna untuk ke puncak bersama lima orang temannya dengan maksud ingin mengisi liburannya dan ingin membelikan hadiah untuk Andika.

Namun pada malam sebelum Arini dan lima temannya berangkat ke puncak, Arini seakan mempunyai firasat yang dia sendiri tidak mengetahui apa arti firasat tersebut. Di dalam tidurnya, Arini bermimpi bahwa dia sedang berada di sebuah taman yang indah. Di dalam taman itu Arini melihat Andika yang sedang menangis sambil mendekap seorang gadis yang tergolek lemah tidak berdaya. Di dalam mimpi itu Arini melihat Andika meneteskan air mata sambil memeluk erat tubuh gadis itu. Namun Arini tidak mengetahui siapa gadis yang berada di dalam pelukan Andika, dan mengapa Andika menangis dan terlihat sangat sedih.

Ketika ke esokan paginya, ketika Adzan Shubuh berkumandang, Arini pun bergegas bangun dan melaksanakan Sholat Shubuh. Setelah selesai melaksanakan Sholat Shubuh, Arini kembali teringat tentang mimpi yang di alami pada malam harinya dan berdoa supaya tidak terjadi apa apa terhadap dirinya dan juga terhadap Andika. Dia pun menceritakan mimpinya itu kepada bu Mirna dan juga bu Siti yang kebetulan sedang menginap di rumah Andika. Namun keduanya hanya menjawab dengan senyuman.

“Insya Allah tidak terjadi apa apa sayang… Kamu berdoa saja dan mohon petunjuk pada Allah.” Kata bu Mirna menenangkan Arini.

“Iya sayang… Betul apa yang di katakan bu Mirna. Insya Allah tidak terjadi apa apa terhadap Andika dan kamu. Kita berdoa dan pasrahkan saja semuanya kepada Allah” Bu Siti pun menambahkan.

“Amiiin… Iya Tante, Ibu… semoga saja tidak terjadi apa apa” jawab Arini.

“Amiiin….” Jawab bu Mirna dan bu Siti.

“Oya, kamu jadi ke puncak hari ini Rin…?” tanya bu Mirna.

“Jadi Tante, sekalian mau cari hadiah untuk Kaka.” Jawab Arini.

“Oooh ya sudah kalau begitu, hati hati di jalan, kalau tidak ada yang di cari ya jangan di paksakan.” Kata bu Mirna.

“Iya Tante, Insya Allah…” jawab Arini.

“Jam berapa kamu berangkat Rin…?” tanya bu Siti.

“Sekitar jam 9.00 WIB nanti bu, nunggu teman teman yang mau menjemput.” Jawab Arini.

“Ya sudah hati hati dijalan. Kamu sudah pamit nak Andika…?” tanya bu Siti lagi.

“O iya, kamu sudah ijin sama Andika sayang…?” tanya bu Mirna menambahkan.

“Alhamdulillah sudah Bu, Tante. Dan Andika sudah mengijinkan.” Jawab Arini.

“Alhamdulillah kalau begitu” jawab bu Mirna dan bu Siti.

Setelah mereka berbincang bincang dan sarapan, Arinipun membantu pekerjaan bi Parni untuk membersihkan meja makan. Dan setelah itu Arini bergegas masuk ke dalam kamar untuk berkemas dan mempersiapkan keperluannya selama liburan nanti. Dan tak berapa lama, ketika Arini sedang berkemas kemas, di luar tedengar suara mesin mobil yang berhenti. Arini pn segera keluar dan ternyata itu adalah mobil yang berisi teman temannya yang akan pergi berlibur bersama ke puncak. Tanpa berlama lama lagi, setelah semuanya berbincang bincang sejenak, akhirnya mereka pun berangkat.

“Bu, Tante, Bi Parni… Rini berangkat dulu ya…? Sampaikan salam Arini untuk Om Darmawan, bapak, Rani, Linda, Tedi, Kak Neni, Pak Jono juga Kak Damar ya…? Untuk Randa dan Rendi keponakan Tante, jangan nakal ya…? Kalian harus nurut sama ibu dan bapak kalian.” Kata Arini berpamitan, dan itu justru membuat bu Mirna, bu Siti dan bi Parni heran dan bingung. Namun segera mereka tepis apa yang mereka pikirkan.

“Insya Allah Rin… Hati hati di jalan ya…?” jawab bu Mirna

“Hati hati Rin…” Sambung bu Siti.

“Iya terimakasih… Rini berangkat ya…? Assalamu’alaikum…” Arini pun berpamitan.

“Wa’alaikumsalam…” Jawab bu Mirna, bu Siti dan bi Parni menjawab salam Arini.

Sepeninggal Arini untuk berlibur, bi Parni, bu Siti dan bu Mirna pun segera melanjutkan kegiatan mereka. Bi Parni segera ke dapur, bu Mirna memeriksa pembukuan restorannya, dan bu Siti membantu bi Parni di dapur. Selama bekerja di dapur, bi Parni mendapat keanehan keanehan yang tidak biasanya terjadi dan tidak pernah di alaminya. Begitu juga dengan bu Mirna dan bu Siti. Akan tetapi mereka berpikir kejadian itu hanya kebetulan saja dan tidak lagi di hiraukan.

Namun ketika sore menjelang, Hp bu Mirna berdering dan ketika di lihatnya nomor yang tertera di panggilan Hp bu Mirna adalah nomor baru yang belum di kenal oleh bu Mirna. Akan tetapi bu Mirna mencoba untuk menerima panggilan itu dan berusaha menjawab dengan ramah.

“Hallo Assalamu’alaikum…?” sapa bu Mirna sambil mengucap salam.

“Wa’alaikumsalam… Dengan bu Mirna…?” jawab seseorang di seberang sana.

“Iya betul, ini saya sendiri. Maaf anda siapa…?” tanya bu Mirna kemudian.

“Maaf ibu, kami dari Kepolisian Sektor Cisarua, ingin menginformasikan bahwa salah satu kerabat anda mengalami kecelakaan.” Jawab seseorang yang mengaku dari Kepolisian tersebut yang memberi kabar mengejutkan itu.

“Maaf, anda bisa menipu orang selain saya. Tapi saya tidak akan pernah tertipu dengan apa yang anda katakan barusan. Penipuan semacam ini sering saya dapatkan dan yang pada akhirnya meminta saya untuk memberikan uang ke rekening anda. Terimakasih atas informasi anda, tapi maaf saya tidak akan mudah percaya begitu saja. Terimakasih. Assalamu’alaikum…” kata bu Mirna mengakhiri percakapannya melalui telephone.

Namun tidak lama, Hp bu Mirna pun kembali berdering dan masih nomor yang sama pula. Bu Mirna pun kesal dan mendiamkan Hpnya untuk terus berdering. Namun lama kelamaan bu Mirna pun menerima panggilan tersebut.

“Maaf ibu, bukan maksud kami untuk menipu. Kami benar benar dari pihak Kepolisian Sektor Cisarua, ini menyangkut kecelakaan lalu lintas dan kebetulan nomor yang bisa kami hubungi adalah nomor ini.” Jawab penelphone itu kembali menerangkan bahwa dirinya benar benar dari Kepolisian.

“Anda masih saja mengatas namakan pihak Kepolisian…? Sungguh berani anda. Baiklah kalau begitu, anda mendapat nomor saya ini dari mana, tolong anda jelaskan.” Tantang bu Mirna.

“Baik ibu, kami jelaskan. Kami mendapatkan nomor ini berasal dari telephone genggam salah seorang korban kecelakaan yang kami tangani. Korban kami ketahui dari kartu identitasnya bernama Arini Kuswandari, korban menumpang APV berwarna hitam bersama lima orang korban lainnya. Dan ciri ciri korban yang bernama Arini Kuswandari mengenakan celana jeans warna biru tua, kaos warna putih, dan di jari manisnya menggunakan cincin bertuliskan huruf AA. Apa anda mengenali ciri ciri korban…?” seseorang yang mengaku seorang polisi itu coba menjelaskan dan memberitahu ciri ciri korban yang di maksud.

Mendengar hal itu, jantung bu Mirna seakan berhenti berdetak. Apa yang di sebutkan oleh seseorang yang mengaku dari kepolisian tersebut sama persis dengan nama dan apa yang di kenakan oleh Arini ketika berangkat ke puncak. Namun bu Mirna berusaha untuk tenang dan tidak panik, meskipun hatinya sedang kalut.

“Maaf, apa buktinya bila nama yang anda sebutkan itu tadi mengalami kecelakaan…?” tanya bu Mirna singkat.

“Baiklah ibu, kami sudah mengirim petugas kerumah anda untuk menjemput anda sekeluarga guna memastikan apakah korban adalah kerabat anda atau bukan. Dan saat ini mobil yang mereka kendarai berusaha kami keluarkan dari dalam jurang. Di duga karena berusaha menghindari kendaraan lain yang berada di depannya, mobil menabrak pembatas jalan dan mengakibatkan mobil tersebut masuk ke dalam jurang. Identifikasi sementara, tiga orang korban tewas di tempat, dan tiga orang lainnya mengalami kristis. Dan semua korban saat ini sedang berada di rumah sakit terdekat untuk mendapat perawatan sementara sambil menunggu keluarga atau kerabat korban yang datang menjemput.” terang seseorang yang mengaku dari kepolisian tersebut.

Ketika mereka semua sedang berkumpul dan berdoa bersama, tiba tiba mereka semua mendengar pintu di ketuk oleh seseorang. Pak Jono pun segere bergegas membuka pintu dan ingin mengetahui siapa tamu yang datang malam itu. Ketika pintu di buka oleh pak Jono, nampak di depan pak Jono empat orang polisi berpakaian seragam lengkap.

“Selamat malam pak…” Sapa polisi tersebut kepada pak Jono ketika pintu sudah di buka.

“Selamat malam pak Polisi…” Jawab pak Jono.

“Maaf pak…? Kami dari Kepolisian Sektor Cisarua. Benar ini rumah ibu Mirna…?” lanjut Polisi itu.

“Benar pak, Silahkan masuk.” Kata pak Jono mempersilahkan masuk para polisi itu.

“Siapa pak Jono…?” tanya pak Darmawan.

“Ini pak, bapak Polisi, katanya bapak bapak ini dari Cisarua.” Jawab pak Jono.

“Selamat malam bapak, ibu sekalian…” sapa Polisi itu ramah.

“Selamat malam bapak bapak…” balas pak Darmawan, dan yang lain pun mengikuti dengan tersenyum ramah.

“Begini pak, kami dari Kepolisian Sektor Cisarua, ingin menjemput anda sekeluarga untuk mengidentifikasi korban kecelakaan lalu lintas yang terjadi tadi sore. Mungkin ibu Mirna sudah mendapat informasi dari Komandan kami, sebelum kami tiba di sini.” Kata polisi itu menjelaskan maksud kedatangannya.

“Terimakasih bapak bapak sudah bersedia memberi informasi kepada kami. Maafkan istri saya yang mungkin berlaku tidak sopan saat menerima informasi tadi.” Kata pak Darmawan sambil memohonkan maaf untuk bu Mirna.

“Tidak apa apa pak, kami juga memaklumi sikap ibu Mirna tadi. Karena memang saat ini banyak penipuan yang mengatasnamakan korban kecelakaan. Baiklah bapak, ibu sekalian mari kita sama sama menuju tempat kejadian.” Jawab polisi itu yang sudah mengetahui sikap bu Mirna saat pertama kali menerima kabar tersebut sambil mengajak semua yang ada di rumah itu untuk segera berangkat menuju lokasi kejadian.

Sesampainya di kantor polisi tersebut, mereka semua di pertemukan dengan kepala bagian lalu lintas. Mereka di perlihatkan semua barang barang korban yang di temukan oleh petugas termasuk barang milik Arini. Namun mereka belum mengenali yang mana barang milik Arini, karena semua barang yang di perlihatkan masih berlumuran darah. Dan tak lama kemudian, Linda yang hafal betul dengan barang milik Arini langsung menunjuk barang itu yang sudah berlumuran darah. Barang itu berupa dompet berwarna merah muda dan sebuah arloji milik Arini. Linda pun langsung lemas dan menangis dan tak mampu membayangkan seberapa parah luka yang di derita oleh kakaknya akibat kecelakaan itu.

Kemudian mereka pun diantar ke rumah sakit untuk melihat kondisi Arini, betapa terkejutnya mereka semua ketika melihat kondisi Arini. Wajahnya sudah berlumuran darah dan Arini dalam keadaan kritis dan koma. Kemudian setelah selesai mengurus semuanya, Arini pun langsung di bawa ke Rumah Sakit di Jakarta. Selama 1 bulan Arini mengalami koma dan tidak sadarkan diri, dan Andika pun hanya di beritahu bahwa Arini sedang mengalami sakit dan tidak boleh di ganggu oleh siapapun. Untungnya Andika mengeri dengan keadaan itu.

Ketika dua minggu menjelang kepulangan Andika dari Jepang, Arini pun tebangun dari koma dan masih dalam kondisi yang lemah. Semua yang mengetahui akan hal itu berucap syukur karena Arini sudah membuka matanya kembali. Namun kegembiraan itu tidak berlangsung lama, karena tepat satu hari menjelang kepulangan Andika, Arini pun menghembuskan nafas terakhirnya. Linda, Rani, Tedi, bu Mirna dan juga bu Siti yang kebetulan ada di ruangan itu pun awalnya tidak mengetahui bahwa Arini sudah tiada. Karena saat Arini menghembuskan nafas terakhir dan memejemkan matanya, seakan Arini sedang tertidur dan tersenyum. Namun ketika, Tedi ingin membetulkan letak tangan Arini, Tedi pun merasa curiga saat menyentuh tangan Arini yang sudah dingin dan lemas itu, dan berusaha menempelkan tangannya sendiri pada hidung Arini untuk memastikan bahwa Arini masih bernafas atau tidak. Ketika di ketahuinya bahwa Arini sudah tidak lagi bernafas, air mata Tedi pun berlinang di kedua pelupuk matanya dan membuat semua yang berada di situ menjadi bertanya tanya pada Tedi.

“Ada apa Tedi…? Kenapa kamu menangis…? Arini kan baru tidur…” kata bu Mirna sambil bertanya.

“Iya Tedi, Kak Rini kan baru tidur, kok nangis sih…? Ada apa…?” tanya Linda.

“Innalillahi Wa Inna Illaihi Roji’un… Subhanallah Kak Rini… Khusnul Khotimah… Subhanallah Kak Rini teruslah tersenyum Kak… Dan semoga Kak Rini selalu tenang dan damai di sana…” Tedi pun menjawab sambil terisak dan membuat semua yang ada di situ tekejut dengan apa yang di ucapkan Tedi.

“Innalillahi Wa Inna Illaihi Roji’un… Kamu serius Tedi…? Arini kan baru tidur…? Lihat dia tersenyum dalam tidurnya.” Kata bu Siti dengan berlinang air mata. Linda dan Rani pun ikut meneteskan air matanya dan seakan tidak percaya bahwa Arini sudah tiada. Sedangkan bu Mirna berlari ke luar ruangan untuk memanggil dokter yang merawat Arini.

“Benar ibu, Kak Rini memang baru tertidur. Tapi kini Kak Rini sedang tertidur panjang dan dia mengalami Khusnul Khotimah.” Jawab Tedi meyakinkan.

“Tolong dokter, tolong anak saya dokter, apa benar Arini sudah meninggal dokter….?” Tanya bu Mirna ketika sehabis memanggil dokter yang merawat Arini.

“Innalillahi Wa Inna Illaihi Roji’un… Saya ikut berduka… Pasien sudah meninggal dunia, dan Subhanallah dia meninggal dengan tersenyum.” Kata dokter setelah memastikan bahwa Arini memang sudah benar benar meninggal dunia.

Meninggalnya Arini, tidak ada satupun yang memberi tahu pada Andika, karena takut mengganggu pikiran Andika selama perjalanan pulang ke Jakarta. Sore harinya seusai pemakaman Arini, Andika pun sampai di rumahnya. Namun sesampainya di rumah pun Andika tidak mengetahui bahwa Arini sudah meninggal dan baru saja di makamkan. Andika berpikir bahwa tenda yang di pasang di depan rumah itu adalah untuk menyambut kedatangannya dari Jepang. Karena memang bendera tanda adanya kematian pun sudah tidak di pasang lagi.

“Gimana Ma, semua sehat…?” tanya Andika kepada bu Mirna.

“Alhamdulillah semua sehat.” Jawab bu Mirna.

“Wah terimakasih ya semua sudah berkumpul menyambut kedatanganku, sampai pasang tenda segala sudah seperti pejabat saja he he he…” kata Andika sambil tertawa, karena memang belum mengetahui bahwa tenda itu adalah tenda pada saat melepas jenazah Arini ke pemakaman.

“Gimana, Arini sehat juga kan…? Sudah sembuh dari sakitnya…?” Andika tiba tiba menanyakan keberadaan Arini.

“Arini sudah sehat, dia pasti senang melihat kamu pulang.” Jawab bu Siti menahan air matanya supaya tidak menetes.

“Aaaaahhhh Aku sudah tidak sabar ingin bertemu Arini, gimana dia ya…? Pastinya tambah cantik ya…?” tanya Andika lagi sambil menghela nafas.

“Iya Kak… Kak Rini cantik sekali Kak…” jawab Tedi yang juga menahan rasa harunya dan berusaha agar tidak menangis, karena memang belum waktunya Andika mengetahui.

“Ah kamu ini, tahu apa Ted…? Sekarang dimana Arini…? Aku mau bertemu Arini sekarang, aku kangen sama Arini.” Kata Andika, namun langsung di cegah oleh Rani.

“Kak… Kak Dika pasti capek, mending Kak Dika istirahat dulu, Kak Rini baru tidur Kak, tadi Rani sama Linda habis jenguk Kak Rini. Gimana kalau besok saja kita kesana, sekalian antar bu Siti, Kak…” bujuk Rani yang tidak ingin kakaknya mengetahui lebih cepat.

“Ooooh ya sudah kalau begitu, aku mau istirahat dulu, biar besok ketemu sama Arini terlihat lebih segar he he he….” Kata Andika sambil berlalu.

Semua yang berada di ruangan itu pun bernafas lega, karena Andika sudah tidak banyak bertanya tentang Arini. Dan mereka pun memutar otak mereka untuk mencari alasan apa ke esokan harinya agar Andika tidak curiga, bahwa dia tidak diantar ke rumah Arini, namun akan diantar ke pemakaman dimana jasad Arini telah terpendam di dalam makam itu.

“Selamat pagi semua….?” Sapa Andika ketika selesai mandi dan sudah mengenakan pakaian rapi.

“Selamat pagi Andika… Ayo sarapan dulu…” ajak bu Siti.

“Iya, ini juga mau sarapan. O Iya, nanti jadi kan kita jenguk Arini…?” tanya Andika.

“Jadi… Tapi sehabis sarapan ya…? Tapi nanti kita mau mampir ke makam sebentar ya Ka…” kata pak Darmawan.

“Ke Makam…? Ada apa Pa…? Ngapain ke makam…?” tanya Andika bingung.

“Ya kita ziarah ke makam Oma kamu, sudah lama kamu tidak kesana kan…?” jawab bu Mirna.

“Oooo iya, Kaka lupa Ma… Iya deh nanti kita kesana, bu Siti ikut juga ya…?” kata Andika sambil bertanya pada bu Siti.

“Iya nanti bu Siti juga ikut kok.” Jawab bu Siti.

Akhirnya setelah semua selesai sarapan, mereka pun segera meninggalkan rumah untuk mengunjungi Arini. Andika pun belum menyadari bahwa Arini di makamkan dekat dengan makam Oma nya yang hanya berjarak sekitar lima pemakaman, namun meskipun dekat harus memutar terlebih dahulu karena terhalang oleh nisan. Dan Andika pun belum menyadari bahwa semua yang ada di dalam mobil itu menahan rasa haru mereka, terlebih ketika Andika memperlihatkan pakaian yang akan dia berikan untuk Arini.

Sesampainya di pemakaman, mereka semua turun dan mulai memasuki areal pemakan tersebut. Dan memang makam yang di tuju pertama kali adalah makam Oma Andika dan Rani yang merupakan orang tua dari bu Mirna yang sudah lama meninggal ketika Andika masih duduk di bangku sekolah. Setelah mereka selesai mengunjungi makam dan memanjatkan doa untuk arwah Oma Andika, mereka pun segera bergegas meninggalkan makam itu.

“Kak… Kak Dika… Sini Kak…” teriak Tedi memanggil Andika yang sudah melangkahkan kakinya ke luar areal pemakaman.

“Loh ada apa lagi sih…? Keburu siang nanti…” jawab Andika sambil menghentikan langkahnya.

“Sayang… Ada sesuatu yang ingin kita sampaikan, kamu ikuti kita saja.” Kata bu Mirna.

“Ada apa sih Ma…? Mau kemana lagi kita…?” tanya Andika yang tidak mengerti.

“Sebentar saja sayang, nanti kamu juga tahu.” jawab bu Mirna lembut.

“Loh katanya kita mau mengunjungi Arini di rumah…?” tanya Andika lagi.

“Iya sayang, ini kita juga mau kesana. Sudah kamu ikut saja nanti juga sampai ke rumah Arini.” Jawab bu Mirna lagi.

Andika pun menuruti apa yang di katakan bu Mirna dan mengikuti arah bu Mirna meskipun di dalam hati Andika bertanya tanya. Dan sesampainya mereka di sebuah makam yang masih baru, Andika bingung karena di sana sudah ada pak Bisono, Neni, dan Damar pak Darmawan, bu Siti, Linda, Rani dan Tedi. Andika pun bingung dan bertanya.

“Ini makam siapa…? Kok semua pada kumpul di sini…? Terus siapa yang menjaga Arini di rumah…?” tanya Andika.

“Sayang… Yang sabar, ikhlas dan tawakal ya…? Ini rumah Arini yang baru sayang…” jawab bu Mirna sambil mengusap kepala Andika dengan penuh kelembutan.

“Maksudnya…?” tanya Andika yang tak mengerti.

“Coba kamu lihat nama yang tertulis di nisan itu.” Pinta pak Darmawan. Dan Andika pun segera membaca tulisan yang tertulis pada nisan itu. Di situ tertulis nama Arini, dan saat itu juga Andika terduduk lemas dan menangis.

“Kak… Sabar Kak… Ikhlaskan kepergian kak Rini Kak.” Kata Linda menghibur Andika yang bersedih itu.

“Maafkan kami semua Dika… Kami memang sengaja tidak memberi tahu kamu, karena takut mengganggu kosentrasi kamu, karena kamu sedang jauh di negeri orang. Sebenarnya Arini selama satu bulan Arini mengalami koma akibat kecelakaan dan yang akhirnya Arini meninggal dunia. Namun sebelum meninggal dunia, Arini sempat menuliskan ini untuk kamu dan yang di temukan oleh Tedi.” Kata pak Darmawan sambil menyerahkan secarik kertas kepada Andika. Andika pun menerima kertas itu dengan berlinang air mata dan membaca isi tulisan itu.

“Sayang… Saat kau kembali nanti… Kau akan melihat butiran lembut warna putih… Dimana dia nanti akan bermahkota putih dan ke emasan… Sayang… Saat kau kembali nanti… Butiran warna putih itu kan abadi… Senantiasa menerangi dalam gelap… Menyejukkan dalam panas… Sayang… Saat kau kembali nanti… Disanalah kau akan melihat… Disanalah aku masih mennggumu… Seperti janjiku dalam penantian… Seperti lilin yang setia pada api… Seperti air yang setia pada laut… Seperti bintang yang setia pada bulan… Dan seperti es yang setia pada salju… Sayang… Saat kau kembali nanti… Aku berharap kaupun demikian… Ibarat salju yang melekat begitulah cintaku…. Cintaku padamu kan terus menyertaimu… Cintaku padamu kan terus melekat… Cintaku padamu tak akan sirna… Cintaku padamu bagai salju bertaburan… Sayang… Diantara salju ku titipkan cinta… Diantara salju ku titipkan sayang… Diantara salju ku titipkan rindu… Dan diantara salju ku titipkan kesetiaan… (Baca Puisi yang berjudul KESETIAAN CINTA )”

Begitulah isi tulisan Arini yang di tujukan untuk Andika. Dan setelah membaca tulisan itu, Andika pun berkata…

“Arini sayang… Aku kembali datang untukmu… Namun tak ku dengar sapa nan lembut terucap… Di antara salju dingin yang turun… Di antara dua kuntum bunga yang mewangi… Ku lihat kau masih duduk diam dan membisu… Dan liontin mungilpun masih erat kau genggam… Di ujung simpang taman itu… Di antara dua kuntum bunga yang mekar… Butiran putih bermahkota ke emasan tepat di sampingmu… Seperti apa ucapmu yang telah tertulis… Di ujung simpang taman itu ku peluk erat tubuh yang terbujur… Dan dalam harupun aku hanya mampu katakan… Kesetiaan cintamu kau bawa hingga akhir nafasmu… Kau terindah dan akan selalu menjadi yang terindah… Seribu rayu kau tepis, seribu goda kau sapu… Demi kesetiaan sebuah penantian… Derai air mata mengiringi kepergianmu… Kau bawa cintaku larut dalam jasadmu… Kau jaga kesetiaanmu hingga akhir nafas… Kau terdiam dalam penantian panjang… Tenang dan damailah kau disana… Mimpi indahlah engkau dalam tidur panjang… Kesetiaan cintamu kan selalu abadi… Tenanglah dirimu dalam kedamaian… Selamat jalan kasih… Ku disini kan selalu merindukanmu… Kan ku simpan liontin ini sebagai lambang kesetiaan… Seperti lambang kesetiaan cintamu pada diriku… (Baca Puisi Yang Berjudul HINGGA AKHIR NAFASMU (Jawaban “KESETIAAN CINTA”))” Begitu Andika berkata di hadapan makam Arini dengan suara yang terisak dan berlinang air mata.

Semua yang mendengar dan menyaksikan itupun tak sanggup untuk menahan air mata mereka. Di depan tanah merah yang masih basah itu, Andika masih duduk bersimpuh dengan wajah yang tertunduk lesu dan air mata yang menetes. Dia seakan tak percaya bahwa Arini akan pergi begitu cepat meninggalkan dirinya. Masih tergambar jelas senyum Arini pada saat melepas kepergiannya untuk menggapai apa yang menjadi cita citanya. Masih tergambar jelas ketika Arini berada dalam pelukannya untuk yang terakhir kali saat melepas kepergiannya.

“Andika… Sudah nak… Biarkan Arini tenang di alam sana… Bapak yakin, Arini pun tidak mau melihat kamu terus bersedih dan meratapi kepergiannya. Ayo nak sama sama kita pulang. Kita doakan saja semoga arwah Arini di terima di sisi Tuhan dan semoga Arini bahagia di sana.” Kata pak Bisono ayah Arini sambil membujuk Andika untuk pulang.

“Betul Andika… Kamu harus tabah dan ikhlas… Semua ini karena kehendak yang di atas sana, dan kita semua tidak bisa berbuat apa apa selain hanya bisa menerima dan pasrah atas apa yang di kehendaki Allah.” Kata bu Mirna ibu Andika yang juga berusaha untuk membujuk Andika.

“Tidak pak, ma… Biarkan Andika disini sebentar, Andika masih mau menemani Arini untuk yang terakhir kalinya.” Jawab Andika kepada pak Bisono dan bu Mirna.

“Andika… Kalau kamu terus begini… Kasihan Arini sayang…? Kamu harus ikhlas dan tabah. Kita semua juga merasa kehilangan Arini, kamu jangan terus larut dalam kesedihan mu.” Kata Neni kakak Arini.

“Iya kak… Andika mengerti, tapi tolong biarkan Andika disini dulu. Andika mohon.” Jawab Andika sambil memohon.

“Baiklah kalau begitu… Tapi kamu tidak boleh terus bersedih, kita akan menunggu kamu di luar pemakaman.” Kata bu Mirna lembut sambil meninggalkan Andika yang masih duduk bersimpuh di depan makam Arini. Pak Bisono, Neni dan juga yang lainnya yang berada di makam itupun pergi, untuk memberikan waktu kepada Andika yang masih ingin berada di makam itu.

Setelah cukup lama Andika duduk di hadapan makam Arini, akhirnya Andika pun beranjak pergi meninggalkan makam itu. Dengan langkah yang lesu perlahan Andika meninggalkan Arini yang sendiri tertidur di bawah gundukan tanah merah itu, dan di genggamnya liontin milik Arini yang pernah di berikan oleh Andika saat Arini berulang tahun sebelum meninggal dunia.

********************

Betapa mahal harga sebuah kejujuran, ketulusan, kesetiaan dan pengorbanan. Cinta tidak dipandang dari sudut materi, cinta tidak memandang dari keluarga mana dia berasal. Meskipun keluarga pak Darmawan adalah seorang yang kaya raya dan juga memiliki perusahaan, akan tetapi keluarga pak Darmawan tidak menghiraukan status dan latar belakang keluarga Arini malah justru mengangkat perekonomian keluarga Arini. Dan semenjak Arini meninggal dunia, keluarga pak Darmawan tidak serta merta memutuskan hubungan mereka seperti yang di khawatirkan oleh keluarga pak Bisono. Akan tetapi justru semakin mempererat hubungan kekeluargaan mereka seperti pada saat ketika Arini masih hidup.

Dari cerita di atas, bisakah kita meniru sikap dan sifat yang di miliki oleh keluarga pak Darmawan yang merestui hubungan Andika dengan Arini meskipun Arini bukan berasal dari keluarga yang kaya, serta tidak pernah memandang dengan sebelah mata orang di sekitarnya…?

Bisakah kita meniru sikap dan sifat Arini dan keluarga pak Bisono yang selalu bersyukur dan selalu berusaha untuk menjaga sebuah kesetiaan dan kepercayaan yang sudah di berikan kepada mereka…?

Wa Allahu ‘Allam…. Jawabnya ada di hati Anda masing masing, hanya Anda dan Tuhan yang tahu jawabannya.


Like it? Share with your friends!

0
0 points
What's Your Reaction?
Bingung Bingung
0
Bingung
Sedih Sedih
0
Sedih
Ngagetin Ngagetin
2
Ngagetin
Keren Keren
0
Keren
Top Top
2
Top
Love Love
0
Love

Comments are closed.

Ketulusan Arini Hingga Akhir

log in

Become a part of our community!
Belum daftar? Klik
Daftar

reset password

Back to
log in

Daftar

Join NULIS Community

Back to
log in